Museum Empu Tantular tanpa naskah Kakawin Sutasoma

Sidoarjo, 13 Juli 2010.
Libur lagi.. sebenernya tidak libur lagi, hanya saja jam kerjaku yang berbeda dengan kebanyakan orang. Aku mengikuti kerja Shift sudah 3 tahun ini dengan jam kerja yang tidak menentu tapi yang tentu banyak liburnya, atau setidaknya aku bisa mengatur jadwal liburku sesuai dengan kebutuhan tidak tergantung dengan jadwal orang kantoran. Pagi ini, setelah dua temenku mba Ugik dan Nurul mengundurkan diri untuk bertemu, akhirnya aku berinisiatif untuk menikmati kota diselatan Surabaya yang 4 tahun ini jadi terkenal gara-gara adanya luapan lumpur Porong karena ulah penambangan manusia.

Tujuanku siang ini adalah ingin mengunjungi Museum Mpu Tantular, yang pertama kukenal berada di jalan Mayangkara disebuah rumah klasik dengan atap unik khas Eropa tepat berseberangan dengan patung SURO dan BOYO ikon kota Surabaya. Tapi sejak bulan mei 2004 museum ini dipindahkan dijalan Buduran, disebelah barat jalan Layang Buduran Sidoarjo. Dengan lokasi yang lebih luas. Nama Museum ini adalah Museum Negeri Jawa Timur “Mpu Tantular”. Sedangkan Mpu Tantular adalah seorang Sastrawan jaman kerajaan jawa dengan dua karya besarnya Arjunawiwaha dan Sutasoma.

Cukup penasaran dengan isi koleksi dari museum ini, pagi kemarin aku ber-sms dengan Nurul yang rumahnya tidak jauh dibelakang museum itu. Mengajaknya untuk menemaniku melihat lihat Museum ini. Dari namanya ingatan kita akan tertuju pada sebuah kerajaan yang baru berdiri diakhir abad 12 masih keturunan raja-raja jawa Kediri dan Singosari. Sebuah kerjaan besar yang akan menjadi tonggak bersatunya Nusantara, bahkan hingga jauh kebarat di daratan Asia (Prasasti di Thailand). Majapahit. Dari cerita guru SD-ku, Majapahit berasal dari nama buah yang banyak tumbuh didaratan jawa timur, disekitar Trowulan ibu kota Majapahit saat itu (Sekarang berada di kabupaten Jombang). Maja adalah sebuah tanaman dengan buah bulat sebesar kepalan tangan orang dewasa lebih besar dari Apel. Dengan kulit yang mengkilat dan keras dan sangat pahit rasanya. Itulah alasan kenapa diberinama Majapahit… (maaf cerita ini tidak bisa dibenarkan, bisa saja hanya pengantar guru SDku untuk memulai cerita Majapahit ini, tapi cukup masuk akal). Sangat kebetulan juga, di Museum ini banyak ditumbuhin pohon buah Maja, dengan daun yang lebar dan cabang dimana-mana cukup meneduhkan dan tidak mengotori dengan daun daun keringnya yang mati.

Ada 4 bangunan utama yang berada dikomplek Museum ini. Pertama memasuki komplek museum ini dengan tiket yang cukup murah (Dewasa : Rp 1500, anak anak Rp 1000, jika Rombongan lebih dari 10 orang Dewasa Rp 1000, anak anak: Rp 500,-). Hampir semua museum Negeri yang dikelola pemerintah memang mematok tiket yang murah, karena pengelolaan Museum sudah didanai APBD melalui Departemen Pariwisata dan Kebudayaan (sebelumnya dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan). Bangunan pertama yang kita temui adalah Sebuah pendo kecil yang biasa juga digunakan sebagai tempat istirahat pengunjung. Ada sebuah Prasasti Lingga (lambang kesuburan) disisi utaranya. Lingga ini adalah berupa cawan air persegi yang atasnya ditutup sebuah batu besar menyerupai pasak tumpul (lebih mirip mortir roket tumpul). Dari beberapa lingga yang kuliat di Musem Nasional, Lingga dibuat dengan tingkat kerapian tinggi batuanya bahkan sampai mengkilap karena halusnya tidak seperti arca ataupun candi yang dibuat tapi masih hasar.

Bangun dibelakang pendopo adalah bangun Utama, sebuah bangunan 2 lantai, dilantai pertama kita akan menemui banyak koleksi hasil penemuan-penemuan purbakala dan Budaya disekitar Jawa Timur. Dimulai dengan penemuan geologi yang berupa fosil hewan, manusia purba (dari Pacitan), batuan mineral dan beberapa tengkorak hewan purba salah satunya kepala seekor kerbau yang ditemukan di Sungai Porong berumur sekitar 800.000 tahun. tepat dibelakang penemuan geologi itu berupa sebuah ruangan menyerupai Brankas besar dengan pintu teralis dan pintu besi yang tebal. Didalamnya banyak peninggalan berharga berupa perhiasan emas, keris keris dengan berbagai modelnya. Salah satu diantaranya adalah sebuah hiasan dada dengan ukiran Garuda (kendaraan dewa Whysinu, yang kemudian menjadi lambang Negara Kita) terbuat dari emas 22 karat dengan 48 batuan permata yang masih tersisa dengab berat sekitar 1,1 kg. Diperkirakan perhiasan pelindung dada tersebut terbuat abad 12 atau 13 awal berdirinya kerjaan Majapahit.

Beberapa peninggalan lain yang dikoleksi museum ini banyak koleksi yang terpengaruh oleh Hindu-Budha, atau lebih dikenal dengan jaman Klasik. Peralatan dan persenjataan untuk memuja Shywa tersimpan dilemari lemari besi, berupa Trisula, Cakra, Cawan penerangan, kapak dan perlatan perang, patung patung dari Budha Mahayana yang sebagian besar terbuat dari Perunggu. Masih banyak koleksi lain ada yang berupa mata uang yang yang pernah digunanakan beberapa kerjaan di Indonesia. Hampir semuanya berupa koin dengan ukiran cetakan yang tidak begitu halus. Ada satu yang cukup menarik, mata uang dari kerjaan Maluku bukan berupa logam, tapi terbuat dari kain (lebih menyerupai kain serbet) dengan ukuran sekitar 15x15cm dengan motif garis kotak-kotak.

Disudut utara ada yang menarik dari kunjunganku kesini, disana ada beberapa peninggalan yang berupa naskah naskah. Ada kitab Negarakertagama yang terbuat dari lontar (duplikat) yang berisi cerita kunjungan raja Hayam Wuruk mengelilingi Majapahit dan juga silsilah rajaraja Majapahit. Terdapat juga Serat yusuf yang terkenal dari Sumenep Madura yang tersimpan dalam kotak ukiran kayu, tulisan dengan bahasa Arab, tulisan-tulisan jawa. Masih banyak naskah naskah lain yang terimpan disana, tapi sangat disayangkan, informasi yang ada sangat minim hingga sangat kurang informatif. Baik tentang alur sejarah benda koleksi maupun tentang penemuannya.

Koleksi lain yang terdapat dimuseum ini lebih cenderung koleksi budaya yang ada di Jawa timur. Mulai dari batik Jawa Timuran dan Madura, ukiran perabot rumah jawa, lemari ukir, kap lampu, keramik-keramik Cina kuno, wayang beber dan beberapa koleksi lainya. Disisi selatan lebih banyak ditemui koleksi koleksi jaman revolusi industi, yang berupa sepeda kuno, sepeda motor kuno buatan jerman, minatur perahu-perahu uap, miniatur pesawat tempur, telepon kuno sejak jalan sentral manual hingga sentral magnetik, persenjataan senapan kuno. Ada juga Koleksi foto Surabaya Lama juga dipajang dalam bingkai.

Dilantai dua adalah koleksi-koleksi berupa alat alat teknologi, aplikasi dari hukum-hukum Fisika, Archimedes, Pascal, dan beberapa pameran lain yang tidak jauh dari pemanfaat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Modern. Diantara bagunan utama dan bangunan satunya yang marupakan ruang serbaguna ada beberapa penemuan-penemuan yang berupa prasasti yang ditemukan disekitar Lumajang, sangat disayangkan selain tidak adanya informasi yang memadai juga prasasti itu terkesan dibiarkan dilantai meskipun ada tempatnya tapi terlihat beberapa bercak cat tembok diatasnya. Dilorong bawah banyak ditemukan arca-arca peninggalan Hindu, berupa arca Whysinu, Shywa, Ganesha, Hyang Durga dan Lingga. Satu ruangan lain yang kemarin tidak aku masuki karena tertutup adalah ruangan museum khusus penderita Tuna Netra. Dimana informasi yang tertera dituliskan dengan abjad Braile. Sangat membantu untuk sodara kita, tapi tentunya kurang bermanfaat apabila tidak ada promo dari pihak museum.

“Ada yang kurang dari museum ini, disini tidak ditemukan naskah Sutasoma. Kitab tersebut adalah karya empu Tantular. Entah masih di Belanda atau sudah di Indonesia”, seorang penjaga museum bernama Sadari memberikan penjelasan singkat padaku dan Nurul.  Dari pencarianku di google menemukan kalau Kakawin Sutasoma saat ini tersimpan di Perpusatakaan Nasional. “Disini juga masih ada sekitar 500 koleksi yang belum ditampilkan, karena keterbatasan ruangan dan informasi dari peninggalan tersebut”. kami bebincang sekitar 15 menit tentang museum ini. Dari kitab Surasoma itulah semboyan bangsa ini berasal “Bhineka Tunggal Ika”. Jumlah kunjungan ke Museum tahun ini mulai banyak karena juga berteparan dengan TAHUN KUNJUNGAN MUSEUM yang digalakan pemerintah hingga tahun 2014. Awal pindah ke lokasi Buduran ini Museum Mpu Tantular kurang diminati, karena lokasinya yang berada dipinggiran kota Sidoarjo, juga letaknya yang berada disamping jembatan Layang, kurang menarik perhatian. Selain itu juga karena adanya perubahan Departemen yang mebawahinya. Sebelumnya pengelolaan Museum berada dibawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sehingga ada kegiatan dari pihak museum yang dimasukan ke Kurikulim Pendidikan dengan pengenalan langsung disekolah sekolah. Tapi kini saat Museum berada dibawah Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, maka terpotonglah usaha yang sudah dilakukan sejak masa P&K, dan pihak Museum harus berusaha ekstra untuk menarik kunjungan dari pihak sekolah maupun dari masyarakat.

Bangsa ini sudah melewati banyak sejarah dan kebudayaan yang dilaluinya, sejak Jaman Presejarah, jaman Klasik (Hindu Budha), jaman Islam, jaman Kolonial, dan jaman Kemerdekaan. Begitu banyak peninggalan yang saat ini kita miliki. Mulai dari jaman-jaman Pra sejarah yang ternyata teknologi disini sudah cukup modern mampu membuat sebuah patung Gajah dari perunggu yang sangat halus, selain itu juga ada sebuah tungku gerabah besar dari perunggu yang digunakan untuk memuja leluhur. Agak berbeda dengan konteks yang ada dimuseum dengan adanya budaya bangsa ini yang lebih menakjubkan, tarian tarian indah, upacara-upacara adat yang besar. Timbul pertanyaan besar dari kami. Budaya seperti apa yang dahulunya mendiami sebagian tanah di bangsa ini hingga kebudayaan yang datang setelahnya masuk dengan mengadopsi kebudayaan yang telah ada sebelumnya. Tentu sebuah kebudayaan yang besar dan berpengaruh kuat. Yang menunjukan Bahwa bangsa ini adalah pangsa yang besar.

Mungkin benar tentang cerita Atlantis adalah sebuah cerita kebesaran bangsa ini ribuan tahun silam.

**
Sesaat setelah mengunjungi museum Mpu Tantular, kali ini kami melanjutkan mengunjungi pusat kerjajinan kulit di Tanggulangin. menyusuri Jalanan Panas Sidoarjo sambil mengenang perbuatan gila kami menyusuri jalan itu setahun yang lalu dengan tujuan Pusat Semburan Lumpur Porong. Saat itu aku memulainya dari Ketintang Surabaya sejauh 25 km, sedangkan Nurul menemaniku sejak dari Sidoarjo. Tidak lama di pusat kerajinan kulit, kami berpindah kepusat kerajinan sepatu dan sendal di Wedoro. Dan hari itu aku selesaikan dengan berkunjung kerumahnya kang Dadank di Sidoarjo.

-hans-
http://www.trihans.com

Advertisements

4 responses to “Museum Empu Tantular tanpa naskah Kakawin Sutasoma

  1. cuma reportase gak penting mba :Daku juga cuma penasaran, next… pengin mengunjungi museum kesehatan surabaya.. belum nemu infonya, baru namanya.thema yang akupake di MPku ini juga nggak jauh dari tahun kunjungan museum :">

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s