Berdiskusi dengan Alam di Ranu Kumbolo…


Gugusan pegunungan Tengger menghampar ditengah Bumi Timur menyuguhkan sebuah kedamaian yang selalu memenuhi mimpi untuk menyapa kehidupan yang sederhana. Bumi Timur ini sungguh sempurna menemani ribuan hasrat untuk menjadi pusat penyatuan Nusantara, kerajaan-kerajaan besar Jawa Klasik (dikenal dengan Jaman Hindu-Budha) telah silih berganti mendirikan kekuasaanya disini, sebut saja Kerajaan Kediri, Jenggala, Singosari, yang kemudian dari keturunan raja-raja tersebut lahirlah Kerajaan Majapahit. Dan silsilah dari raja-raja jawa tersebut masih segaris keturunan dalam Wangsa Isana.

Majapahit dengan ambisi Gajah Mada-nya telah berhasil mempersatukan Nusantara dari Semenanjung Malaya, Sumatra, Kalimantan, Jawa dan sebagian Indonesia Timur. Berdiri menjadi sebuah kerajaan kuat seperti sosok Gajah Mada yang duduk bersila menjaga Madakaripura di sisi utara pegununggan Tengger ini. Sedangkan di sisi selatan pegunungan Tengger inilah atap jawa menjulang tinggi memasak kedalam perut bumi dengan kuat. Dalam gugusan pegunungan Jambangan Puncak Mahameru berdiri menjadi pusat perhatian orang-orang suci terdahulu yang menganggap itulah pura tertinggi di Jawa.

Sedangkan sebuah danau terluas dikawasan itu yang terbentuk dari massive kawah Gunung Jambangan juga selalu menarik minat untuk mengunjungi dan menikmati keindahan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru Ini. Sama seperti minat Majapahit untuk menandai kekuasaanya dengan meninggalkan sebuah batu prasasti berhuruf Sangsekerta di sisi barat danau dengan ketinggian 2390mdpl ini. Danau ini telah dijamah manusia jawa jauh sebelum jaman Kolonial menguasai negeri ini.


Pagi ini, kabut dingin Tengger menyelimuti membekukan nyali kami untuk menyapanya lebih lama. Beberapa badai kecil masih silih berganti menyambut Matahari yang tak kunjung menampakan sinarnya. Ranu Kumbolo berkabut pagi itu, Kami melingkar manyatukan sebuah harapan dibawah tenda besar menghadap kearah matahari terbit. Ada Riyanni Djangkaru didepanku dengan jacket biru mudanya, Mba Nida dari manajemen Jejak Petualang TRANS|7 dan Ncep yang menjadi presenter JP mengapit dalam dingin. Sedangkan disamping kananku ada Medina Kamil dan mas Herna “Tyo” disamping kiriku dengan Jacket Cartenz-nya yang cukup nyaman. Beberapa JPers jatim pun berbaur diantara kami, Hero, Nurul, Doi Fani, Udin, Kang Tovic, Cempluk…Pagi itu kami Derdisuki Dengan Alam, dan Ranu Kumbolo dengan sempurna telah memberikan kesempatan itu, meskipun sesekali angin dingin memaksa kami untuk lebih merapatkan mimpi…

***

Sehari sebelum perjalanan dimulai…

Tidak seperti biasanya, tiba-tiba aku menuruti ajakan untuk berkumpul di sebuah dataran dengan ketinggian diatas 2000 mdpl. Mengumpulkan peralatan pendakian yang sudah entah dimana keberadaanya, dan akhirnya harus pinjam kanan kiri. Kompor gas yang buntu karena terlalu lama dalam kardusnya. Sleeping Bag yang masih kurang satu. Dan tenda yang langsung memenuhi kapasitas packing Airspace 35lt-ku. Menyusun menu untuk 2 hari pendakian dan akhirnya menemukan 6 teman pendaki yang akan menemaniku menempuh perjalanan jauh dari Surabaya ke Ranupani.

Beberapa minggu kemarin aku menolak mentah-mentah ajakan mendaki dari Deedee, seorang teman komunitas yang yang juga akan mendaki Semeru diakhir Juli ini. Paksaan yang ia suguhkan tak mampu meracuniku untuk kembali memulai manajemen perjalanan pendakian gunung. Tapi satu email singkat dari seorang yang bernama Riyanni Djangkaru telah membulatkan asa yang mulai menghilang, bahkan semakin tak terasa setelah 2 tahun selalu menolak ajakan untuk mendaki puncak trianggulasi tertinggi disuatu dataran. Pendakian ke slamet akhir tahun kemarin aku melaluinya tanpa persiapan hanya percaya dengan team besar yang memang sudah ada dan peralatan yang lengkap, diriku hanya nyempil diantaranya.

Maka Virus itu benar-benar meracuniku, memaksaku untuk merasakan kembali aroma kehidupan yang selama ini lebih banyak memenuhi Wall dan Blog-ku. Diawali dengan track panjang dari Surabaya-Ranupani yang kami tempuh dalam lima jam. Melewati jalanan terjal yang menyiksa motor bebek kami. Beberapa kali aku melewatinya dan selalu saja tak kuat untuk membawa kedua tubuh penumpangnya melewati tanjakan terjal sebelum desa Ngadas maupun setelah pertigaan Jemplang. Dan lewat tengah malam, setelah jari-jari tangan terasa membeku saat menenumbus kabut Tengger. Sampailah kami berenam yang menaiki 4 motor di desa tertinggi di TNBTS ini. Ranupani dengan ketinggian 2300mdpl.

Begitu jatuh cintanya aku dengan desa ini, beberapa tulisan telah kubuat di Blog-ku untuk menggambarkan kehangatan embun- embun yang berubah menjadi butiran es yang mematikan di pagi hari. Juga menginspirasikanku untuk membuat Group FB Ranupani “Serpihan Sruga”. Ranupani, desa terakhir untuk memulai pendakian ke Semeru, jauh lebih terkenal di luar negeri dari pada di negeri sendiri. Bahkan orang Malang-pun aku tak begitu yakin banyak yang mengenal desa dengan tradisi masyarakat Tengger yang kuat ini.

Malam ini, setelah 3 jam perjalanan dari Malang melewati hutan gelap dan jurang-jurang terjal dikanan kiri jalan tak rata. Kami memutuskan untuk menginap di sebuah rumah di dekat pos pendakian. Meskipun sebelum kesini telah menghubungi Bu Nunuk yang selalu menjadi jujugan kami jika kesini. Tapi karena kedatangan kami ditengah malam ini tidak tega untuk membangunkannya dalam selimut dingin Ranupani. Baru keesokan harinya sebelum pendakian dimulai kami menitipkan motor-motor kami disana. Membiarkanya membeku dan basah dalam hujan musim kemarau ini.

Perjalanan panjang, dulu 3,5 jam kini 5 jam..ckck…
24-25 Juli 2010. Ranupani-Ranu Kumbolo, TNBTS.


Enggan meninggalkan desa ini, menggantinya dengan peluh keringat dan beban berat dipunggung. Telat kami memulainya. Setelah pukul 10 pagi, rombongan kecil ini baru memulai perjalanan. Dua lembar fotokopi KTP dan selembar Surat Dokter menjadi syarat wajib yang baru tahun ini diberlakukan untuk mendapatkan surat ijin pendakian ke Semeru. Kali ini perjalanan yang awalnya hanya aku rencanakan dengan Pak WEA, seorang teman dikantorku. Yang mulanya adalah untuk mengunjungi air terjun Madakaripura di Sukapura dan menginap semalam di puncak Pananjakan. Akhirnya harus dialihkan juga setelah mendapat kabar dari milis JPers tentang acara Kumpul kumpul bersama crew Jejak Petualang di Ranu Kumbolo.

Maka 4 teman lainya adalah temen-teman yang terbiasa menemaniku menjelajahi bumi dengan langkah kaki. Ada Nurul, anak kuliahan yang aktif dipendakian. Ada Doi Fani, seorang mekanik diutara Surabaya yang pernah bersusah payah mencari rumah RD di bogor tapi belum sempat ketemu RD. Ada pasangan Udin dan Vita, Bapak dan Ibu Dosenya Nurul yang juga sama-sama suka menjelajah kesemak semak. Dan lengkaplah berenam kami memulai pendakian ini. Dan beberapa teman aku temui sepanjang perjalanan ini, ada Om Bonie pemilik took Adventure Camp Pondok Gunung Malang, dan Mas Bernad yang aku kenal di EASTJAVAGANZA awal April kemarin.

Nafas yang terengah, keringat yang membasahi dan terik yang mulai mengeringkan kerongkongan mengawali perjalanan kami. Dibeberapa tempat yang menarik untuk diabadikan beberapa frame dari Panasonic Lumix nya pak WEA telah me-narsiskan kami. Ditambah lagi dengan dua DSLR gede bawaanya. Tak ada salahnya kami naris diperjalanan yang semakin melelahkan ini. Jika dua tahun kemarin aku melewatinya hanya dengan 3,5 jam sampai di Ranu Kumbolo, kali ini setelah 5 jam perjalanan kami (Aku dan pak WEA) baru sampai pada tikungan dimana kita akan melihat sebuah danau hijau untuk pertama kali. Sedangkan rombongan yang lain telah meninggalkan kami berdua.

“Bukan faktor usia yang memaksaku semakin lambat, tapi perut yang tertahan daypack didepan dadaku” Alibiku kali ini untuk ngeles dari waktu panjang yang kujalani.

Pak WEA masih sibuk dengan mata lensanya yang panjang memaksaku untuk meninggalkanya, mengurangi letih yang sudah cukup membakar kalori tersisa berganti dengan stamina yang mulai menurun.

Sore itu Ranu Kumbolo menawarkan cahaya terang…
Mata-mata jeli mengabadikan dari balik lensa…
Tubuh tubuh kedinginan menghangatkan dengan sisa terik…
Sarung hijauku kali ini menemaniku kembali menghangatkan raga…

Ada Hero, kang Tovic, Faries dan Cempluk yang sudah sejak kemarin mendirikan tenda disini, disisi barat danau. Mereka berempat berniat mengikuti acara yang diadakan oleh team Jejak Petualang TRANS|7 dari awal . Kali ini team JP akan mengambil liputan untuk materi 17 Agustus nanti. Diisi dengan upacara bendera, dan game-game ringan. Yang nantinya akan tayang di Jejak Petualang edisi 17 Agustus 2010. Sungguh istimewa, meskipun sangat disayangkan acara ini baru dipublish dalam waktu yang sangat singkat. Dua hari sebelum kegiatan ini berlangsung aku baru membantu mempublishnya di Event FB JP Comm dan WEB JPERS [ http://www.jejakpetualang.org ].

Istimewa. Baru kali ini team JP begitu lengkapnya, apalagi berada di sebuah gunung. Mulai dari Eksekutif Producer om Dudit yang biasa membawakan acara Mancing Mania, Produser JP om Budi yang juga salah seorang yang melahirkan JP, 6 presenter JP : Riyanni Djangkaru, Medina Kamil, Herna “Tyo” Survival, Septi “Ncep” yang pernah di Petualangan Bahari, Putri Ayudya yang pernah liputan JP di Katmadhu, dan Presenter baru JP yang cantik Indrayani Laksmi. Lengkaplah keisitimewaan Ranu Kumbolo dengan bunga-bunga ilalangya yang mulai tergantikan dengan semak musim kemarau.

Satu persatu menyalami mereka, memperkenalkan diri meskipun beberapa sudah ada yang pernah ketemu. Dan sebuah bingkisan istimewa dari team JP aku dapatkan berupa kaos kegiatan limited edition di Ranu Kumbolo ini. Meskipun telat mereka masih mengingat beberapa JPers yang datang terlambat ini. thanks.. 😀

Akhirnya dipagi berikutnya kami dari JP dan JPers terlibat dalam jamuan tentang kebersamaan yang selama ini sudah dijalin dalam sebuah persahabatan. Saling bercerita tentang kami, kita dan kebersamaan yang selama ini lebih hidup didunia maya. Dari JPers menyampaikan beberapa hal tentang komunitas yang sudah mulai menggeliat dengan event-event yang cukup besar. Dan manajemen JP TRANS|7 yang diwakili mba Nida menyampaikan jalinan kebersamaan ini yang diharapkan akan lebih baik dan lebih bermanfaat untuk semua. Jamuan itu pun berakhir dengan badai kabut yang membawa rintik rintik air, membubarkan kami yang memang mulai kedinginan.

Dan siang itu setelah team Putri Ayudya turun dari puncak, aku sempat memberikan welcome drink sebuah kaleng minuman berkarbonasi. Dan setelah aku mendapatkan kompor ku yang dipinjam oleh team tersebut, team JPers dan JP beriringan melewati jalan setapak mendaki dan menuruni hutan tropis yang masih cukup rimbun ini. Kembali di Ranupani dan bertemu dengan sahabat-sahabat yang lain yang akan menempuh jalan yang telah kami lewati, ada Deedee, Titi, Joe, Eka dan teman-teman dari Indocement Jakarta.
***

Sore itu kami membersihkan diri dirumah pak Thomas, kepala desa Ranupani yang biasa menjadi jujugan kami jika berkunjung kesini. Tempat dimana kami menitipkan motor-motor bebek buatan Jepang. Disebelahnya adalah rumah Bu Nunuk dan Pak Ingot, masih saudara dari Pak Thomas. Hujan deras memaksa kami untuk lebih lama menghangatkan di tungku ruang tengah. Tak ada pergerakan dari kami sampai ada sapa dari mba Hana, istinya Pak Thomas yang baru kukenal.

“Rombongan dari mana mas” Tanya mba Hanna.
“Dari Surabaya mba, yang kemarin menitipkan motor disini.” Jawab kami.
“Pak Tasrip ko nggak keliatan ya mba, biasanya beliau menemani kami disini.” Aku mulai merasa ada yang kurang tanpa keberadaan pak Tasrip yang biasa menyambut tamu-tamunya dengan ramah, dan guyonan segarnya.
“Bapak Sudah tidak ada mas”
“Baru tanggal 30 Juni kemarin, sebenernya sakitnya sudah beberapa bulan. Karena suhu Ranupani yang tidak baik untuk kesehatanya, bapak sempet dibawa turun ke Senduro. Dan Bapak meninggal dirumah sakit” Mba Hanna menerangkan meninggalnya Pak Tasrip.

Cukup kaget mendengar berita itu, Bagi kami bapak Tasrip adalah sosok yang sederhana, ramah, suka menyapa dan mencandai kami dengan guyonannya. Sekilas teringat pertemuan terakhirku dengan beliau. (di note: Ranu Pani – Love never End). Beliau menemani kami dengan cerita tentang masyarakat Tengger dengan upacara-upacara adatnya yang masih bisa ditemui, tentang awal mulanya beliau memilih tinggal di Ranupani setelah pindah dari Lumajang. Dari cerita Mba Hanna bukan cuma kami yang merasa kehilangan. Ada seorang tamu dari Prancis yang setiap tahun datang ke Ranupani dan selalu mencari untuk bertemu dengan Pak Tasrip.

Orang baik akan dikenang baik.. 🙂

***


Dan malam itu juga kami melanjutkan perjalanan pulang turun ke Malang dilanjutkan ke Surabaya. Ditameni gerimis dan licinya jalur turun yang memang sudah rusak parah. Hawa dingin yang membekukan jari-jari dan tangan kami. Bahkan sampe sukses membuatku jariku kram saat menuruni jalanan berbatu sepanjang Ranupani –Tumpang.

Terima kasih untuk:
-Alloh SWT, untuk kesempatan kembali mengunjungi Ranu Pani “Serpihan Surga”
-Tante Riyanni DJangkaru, Media Kamil mas Herna, untuk pertemuanya kembali.
-Preseter JP: Putri Ayudya dengan suara khas-nya, Septi si Ncep, dan Indrayani laksmi, terima kasih untuk perkenalannya.
-Mba Nida yang menemani kami “Berdiskusi dengan Alam”
-Team JP TRANS|7
-JPers Jatim: Nurul, Doi Fani, Udin, Vitta, Hero, Kang Tovic, Faries, Cempluk
– Deedee yang taernyata keberuntungan berpihak padamu mendpatkan kaos JP-ku yang ukuran sesuai untukmu, Titi, Joe, Eka dan semua taemnya.
-Pak WEA, mohon maaf telah mengajak menjalani perjalanan melelahkan ini. thanks bidikan kameranya.
-Siku..siku… 😛

-hans-
http://www.trihans.com

Advertisements

4 responses to “Berdiskusi dengan Alam di Ranu Kumbolo…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s