Kamar 13… di ketinggian 1830mdpl

-di Ketinggian 1830 mDPL-


Dalam dingin dan gelap malam, aku duduk sendiri diantara jalan licin yang dibuat berundak-undak ini, seperti anak tangga dengan batang kayu ataupun akar-akar pohon yang dibiarkan melintang dijalan. Gelap, sekitar 50 meter dibawah sana adalah Base Camp Cemoro Kandang. Pos pendakian Gunung Lawu yang berada di wilayah Propinsi Jawa Tengah. Sedangkan sekitar 500 meter disebelah timurnya adalah Base Camp Cemoro Sewu masuk dalam wilayah Jawa Timur. Malam itu aku mencoba menikmati kegelapan dengan duduk sendiri dalam rindangya hutan yang merupakan pintu masuk pendakian ke puncak dengan ketinggian 3.265 mDPL di perbatasan Jateng – Jatim.Seperti biasanya jika aku melakukan sebuah pendakian, maka aku akan mencoba mengambil moment sendiri seperti ini. Entah saat dalam perjalanan maupun saat istirahat disebuah pos. Dan kali ini aku mencoba menikmatinya di pintu menuju puncak gunung Lawu. Kedatanganku kali ini bukanlah untuk melakukan pendakian, hanya ingin bertemu dan menjemput teman-teman dari Jejak Petualang Community yang melakukan pendakian masal. Tapi kali ini aku menikmati dingin angin diantara batang-batang pohon ditambah rasa gelisah, karena masih hanya sebagian kecil dari team JPers yang turun…. Sebuah status dari wall biruku, sempat kubuat saat menunggu:

“Dalam lorong gelap rerimbunan menyambut kerlip headlamp kalian. Cepat pulang kawan, sudah sampai kembali di pos Cemoro Kandang “

Sebuah pendakian basah dan singkat, mereka baru mulai start pendakian jam 9 malam kemarin dan 24 jam berikutnya saat aku menanti di tangga-tangga licin ini, mereka sudah harus turun untuk kembali ke Jakarta dan beberapa kota disekitar jawa. Satu pilihan nekat yang mereka ambil. Belum lagi molornya waktu perjalanan dari Jakarta yang hampir 20 jam. Ckckck…. Sejak awal membaca itenerarinya pun aku sudah menebak akan melenceng jauh. Tapi biarlah, toh kali ini aku memilih hanya menjemput mereka. Ini sudah menjadi style-ku dalam menikmati persahabatan ini. tidak harus mengikuti kegiatan mereka, cukup mengantar atau menjemput mereka… atau bahkan hanya mengirimkan suara di sebuah kotak kecil berkedip bernama handpone, itu cukup. Meskipun tidak mengikutinya aku selalu terikat untuk mengikuti perkembangan perjalanan mereka.

Dan malam itu ditemani beberapa teman JPers yang sudah turun, kami membantu teman-teman lain yang susah payah melewati jalanan licin jalur Kandang. Ada Eko Jogja, Uchits, Jiteng, Faries dan Juppy. Beberapa kali kami naik turun membantu teman-teman yang baru turun dan menanyakan kondisi teman-teman yang lain. Sebuah sekenario evakuasi kecil pun diberangkatkan untuk menjemput seorang peserta yang cidera kakinya dipos 2 Taman Sari Atas. Aku tetap menuggu disini, beberapa meter diatas Pendopo. Sampai akhirnya wajah-wajah lusuh kecapean yang mulai aku temui, aku mengenal mereka… jauh lebih mengenal mereka dengan style ini dari pada mengenal mereka pada kehidupan yang mereka jalani sebenarnya. Ada Irda, Bule, Vincent,  Savanaers dan wajah-wajah lain yang belum begitu aku kenal. Tapi kegelisahan ini semakin mengigil, karena belum ada separuh dari jumlah team yang turun. Maka aku mengajak Jiteng untuk naik lebih dalam keatas.

Menunggu cukup lama dan akhirnya menemukan Juppy yang tertatih memapah Ana, Ada Jemmy yang juga sudah kepayahan mengandeng Riri dengan pandangan kosongnya, sangat kecapean kah?. Kuambil alih ceril Jemmy dan membantu Juppy. Ini baru sebagian kecil yang turun, tapi kondisi mereka sungguh sangat drop. Turun di Base Camp dan kemudian mengajak beberapa teman untuk naik kembali, kali ini lebih dalam dan lebih tinggi. Sampai akhirnya berpapasan dengan rombongan yang cukup banyak dari Diana dan Titi. Menunggu diatas dan kemudian turun kebawah kembali, Menunggu koordinasi karena masih banyak yang belum turun. Menjelang pukul 11 sebagian besar sudah turun di Base Camp Cemoro Kandang. Hanya team bang One berlima yang menginfokan bahwa mereka nyasar sampe ke tower, di bukit sebelah barat Hargo Dalem.

Pukul 2 dini hari, team Jakarta turun pulang ke bis mereka di Tawangmangu. Kembali ke Jakarta. Tersisa kami berlima yang akan menunggu 5 teman kami yang tetinggal diatas, yang kemudian menjadi 7 orang setelah diabsen ulang. Ada One, Redi, Dimas, Umar, Ahadi, Ikhwan, dan Heni. Serta saudara Ana, Raimon dan Ekta. Bukan meninggalkan tanggung jawab Panitia, tapi kami mengambil alih untuk tetap menunggu di sini. Mengantikan posisi mereka karena waktu kami masih senggang hingga beberapa hari kedepan.

Setelah semua peserta dan panita pertama turun, aku mulai menerima beberapa SMS dari mereka. Meminta update dan memberikan beberapa komando awal yang harus kuambil besok. Kemudian memasuki sebuah ruangan berukuran 4×5 meter disebelah utara POS Perijinan. Kali ini aku harus rela tidur kedinginan tanpa SB, karena memang tidak membawa dan tidak ada niatan untuk bermalam disini. 3 SB lengkap dengan penghuninya tidur nyenyak disampingku, entah siapa mereka, dan ternyata saat pagi berikutnya baru kuketahui, ada Hero, Vincent dan om Jon Kemon.

Pagi yang mulai sibuk, setidaknya untuk hapeku, bukan untuk kami berenam yang masih kedinginan dikaki gunung Lawu ini. dari teman-teman di Jakarta mulai menanyakan kabar yang sama tentang 7 sahabat kami yang tertinggal di atas. Aku yang tidak masuk dalam team pendakian ini pun tidak dapat memberikan gambaran jelas tentang kondisi teman2 yang tertinggal. Bang Boim, Bang Ori, Tante Nha, mengawali mengabsen hapeku pagi itu, menanyakan hal yang sama. Agak siang semakin banyak yang menanyakan. Bukan hanya dari Jakarta tapi dari seputaran Jogja, solo. Ada Mas Aji, Pak Kus Cartens, dan Mbah Jarody… dan masih banyak lainya. SMS pun sampe capek jembol ini membalasnya.  Bahkan mungkin ada yang tertinggal. (Maaf!)

Titik terang mulai ada. Ternyata 7 team yang tertinggal itu terbagi dalam 2 kelompok kecil, Si Ikhwan dan Heny ternyata menginap di warung mbok Yem, sedangkan team One berlima memang tersesat dan harus dijemput team SAR (detailnya silahkan baca Kronologi SAR JFH II di web Jpers..). Setelah semua jelas, dan tinggal menunggu team yang tertinggal turun. Rencanaku untuk pulang ke Surabaya sore ini ternyata harus diundur besok pagi. Karena sudah tidak ada angkutan L300 yang turun ke Plaosan kemudian melanjutkan lewat Magetan.

-Kamar 13-


Dan malam kedua di Cemoro Kandang ini kami semakin banyak, setelah ditambah team Ikhwan yang turun berlima, dengan Raimon dan Heni serta 2 orang temanya. Bersesakan kami di kamar itu, tapi cukup hangat.“Mas, yang tidur dikamar 13 ada berapa orang” Tanya mas Eka, seorang team SAR AGL (Anak Gunung Lawu) yang baru aku kenal tadi siang, saat koordinasi SAR untuk menjemput One.
“ada 11 mas, ditambah 5 yang baru turun sore tadi” jawabku.
“kalo nggak cukup bisa di Mushola sebelahnya” mas Eka kembali menawarkan kepadaku.

Saat itu aku sedang bebincang denganya didepan pos perijinan, meskipun udara dingin tapi aku lebih memilih menikmati bintang yang lebih terang karena langit bersih tak berawan, dan sejak siang tidak ada hujan yang turun, berbeda dengan kemarin yang seharian diguyur hujan. Hanya beberapa kali kabut tebal menyapa dan menutup pandanganku. Malam yang cerah.

“Aku masuk dulu mas, pengin kenalan dengan yang lain” mas Eka berpamitan masuk ke kamar di sebelah pos ini.

Akupun mengikutinya dari belakang, satu dua cerita dimulai dengan kehangatan kopi. Dan asap rokok mulai memenuhi ruangan kecil itu, aku lebih memilih duduk disebelah pintu demi menemukan udara yang segar, meskipun dingin. Dimulai dengan perkenalan singkat dari kami masing-masing, lanjut ke cerita-cerita seputar Lawu dan akhinya aku menanyakan sebuah pertanyaan, yang menurutku adalah pertanyaan salah yang tidak seharusnya aku tanyakan.

“Mas Eka, kamar 13 itu apa, ko namanya 13… kan Cuma ada satu kamar?” dengan polos aku bertanya.

Dan sebuah jawaban singkat membuka jawaban panjang lainya tentang SAR LAWU. “ini kamar Evakuasi Mayat. Jadi setiap ada korban yang dibawa turun selalu dimasukan ke sini, dari pada dibiarkan diluar. Sudah puluhan mayat dengan berbagai kondisi yang masuk dan disemayamkan sejenak disini”

Benarkan!! Sebuah pertanyaan yang salah, yang awalnya kami ber haha hihi, akhirnya harus lebih merapatkan tempat duduk kami.

Kamar ini tidak terlalu luas, hanya berukuran sekitar 4×5 meter, dengan 2 jendela tanpa gorden dan sebuah pintu panjang. Ditembok sebelah utara dilukis dengan sebuah lingkaran berwana merah orange dan sebuah siluet biru gunung Lawu. Nama AGL membentuk setengah lingkaran diatasnya. Sedangkan disisi selatan berupa coretan coretan siluet seorang climber yang sedang bergelatungan di tebing, sebuah papan tulis bertuliskan nomer chanel frekuensi Handy Talky. Ada juga 2 buah tandu, 1 ditidurkan dan satunya berdiri bersandar. Hanya beralaskan tikar dan sebuah matras aluminium foil, pantas saja aku semalam kedinginan tidur disini. Apalagi aku hanya bermodalkan sarung, sarung yang selalu setia menemani perjalananku.

Disebelah barat ruangan ini adalah sebuah tumpukan berwana biru, aku dan bang Jon hanya berbisik menebak tumpukan seperti karpet itu, “Kantong mayat”. Tembok penuh dengan bercak cat merah seperti darah, dan beberapa celana Jeans lusuh dan robek robek tergantung disana. Menambah suram suasana kamar itu, apalagi penerangan yang hanya sebuah lampu pijar. Remang remang…. Sedangkan disudut selatan nya aku menemukan gulungan karpet yang di ikat, ahh… makin mirip bayangan manusia saja :(. Saat pembicaraan tentang SAR dimulai, aku sudah duduk diatas tumpukan biru itu bersama bang Jhon disisi barat. Duduk dalam keremangan sambil menebak apa yang sebenarnya sedang kami duduki ini…

Dan sebuah cahaya terang diatas sana, Pendopo, sangat menarik perhatianku dan bang Jon. Terlihat beberapa kali bang Jon dan aku terpaku pada cahaya diatas sana, ada apa? Entahlah.. cahaya disana sungguh tepat berhadapan dengan kami bedua, sehingga mau tak mau harus sering memperhatikanya. Diselingi cerita seram, saat dua sahabat mas Eka dari SAR AGL yang ikut nimbrung dengan kami, tentang cerita cerita SAR, penunggu-penunggu ghaib disetiap pos.. (yang sebaiknya tidak perlu saya hapalkan untuk menjadi bahan tulisan ini), cara membaca jejak korban, bahkan cara membaca sifat alam menurut ilmu yang mereka pelajari secara alamiah, dan tentunya ujung-ujung dari team pencarian SAR itu adalah ditemukanya mayat yang akan dibawa turun dan di istirahatkan sejenak di kamar ini… Kamar 13… atau lebih jelasnya Bangsal 13.

Dan malam itupun aku tak banyak bergerak, tidak lagi berani duduk sendiri di tengah gelapnya malam dalam rerimbunan hutan diatas pendopo Cemoro Kandang seperti malam sebelumnya. Tidak juga keluar sekedar menikmati dingin dan bintang yang malam itu lebih terang. Memilih meluruskan punggung dan merapatkan sarung dinginku ini….

*ada yang punya foto kamar 13?
-hans-
http://www.trihans.com

Advertisements

8 responses to “Kamar 13… di ketinggian 1830mdpl

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s