Bandung Yang Dingin

Bandung, 23-24 Juli 2011

 DSC02705

Bandung yang dingin, tak pernah terbayangkan olehku harus merebahkan diri di tengah taman kota, di atas pembatas taman yang begitu dingin tanpa alas dan tanpa selimut. Aku tak membawa jaket polar seperti biasanya, hanya jaket kain tipis yang menemaniku kali ini. Menggigil di tengah malam dengan alas seadanya. Tidurpun sepertinya seperti tidurnya ayam, kadang terpejam lebih banyak gelisahnya.

Taman Dago di samping flyover ini, aku belum mengenalnya. Bahkan malam itu aku tidak tahu kalo yang kutiduri adalah taman Dago, baru beberapa hari kemudian kuketahui. Dan memang aku sempat menemukan huruf cetak besar G dan O yang dipasang di sana. Tapi tidak menemukan huruf D dan A di sisi sebelahnya. Selain karena gelap, malam itu juga banyak pekerja yang sedang mempersiapkan acara Car Free Day di jalan Dago.

***

Wawan, teman kosku di Benhil. Hari sabtu ini ia akan ke Bandung untuk meneruskan pekerjaanya di sebuah Data Center baru di daerah Cidurian. Mendengar kata Cidurian akupun teringat dengan rumah saudaraku di sana. Maka ajakan basa-basinya kepadaku langsung kusambut antusias. Dengan beberapa skenario apa saja yang kami lakukan di Bandung nanti.

Rencananya setelah Wawan menyelesaikan perkerjaanya akan mengajaku keliling Bandung. Maklum dia adalah orang sunda, sedangkan aku baru beberapa kali ke Bandung. Belum cukup hapal, hanya tahu beberapa bagian kota Kembang ini saja.

Maka Sabtu siang itu dengan menaiki Travel. Aku dan Wawan menuju ke kota Bandung. Tidak ada yang aneh sepanjang perjalanan menuju ke Bandung. Jalan Tol Cipularang yang lengang dan tak sampai 3 jam kemudian sudah memasuki kota Bandung. Berhenti di pool Travel di daerah Buah Batu, kemudian melanjutkan ke Cidurian dengan menggunakan angkutan kota.

Menemani Wawan menyelesaikan pekerjaanya. Kemudian mengenyangkan perut kelaparan kami di Bebek Goreng Pak Slamet yang terkenal dengan sambel bawangnya yang pedas dan memang top. Maka siang itu pun, 2 piring nasi yang masing-masing kami habiskan dengan ditambah sambal dan Bebek Goreng yang nikmat.

Setelah makan, kami sempatkan untuk berkunjung ke rumah saudaraku di Cidurian. Sekedar untuk berkunjung dan numpang mandi. Dan acara selanjutnya adalah kami ingin menikmati malam mingguan di Bandung. Entah di mana, pokoknya pengin nongkrong menikmati kota yang terkenal dengan kembang cantiknya ini.

==================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

==================================================================

Kedai Kopi Mata Angin

DSC02697

Maka setelah membersihkan diri dan sedikit tanya-tanya rute angkutan kota yang akan kami gunakan nanti. Aku dan Wawan pun jalan menuju Taman Pramuka. Di sana aku ingin berkunjung ke Kedai Kopi Mata Angin, kebetulan mba Emma adalah pemiliknya. Saat memasuki kota Bandung siang tadi, aku sudah berkirim pesan singkat dengan mba Emma. Dan akan berencana berkunjung ke KKMA.

Aku mengenal mba Emma di milis #pendaki Indonesia, dan beberapa kali bertemu saat dia mengikuti event di Jawa Timur. Mengantarkanya ke House of Sampoerna  kemudian bermain di Bromo dan juga pernah bertemu di JUST Travellers @ Weekend. Dan kali ini aku memenuhi janji untuk berkunjung ke Kedai Kopi-nya yang didesain dengan format Adventure, sama seperti kegemaran kami, berpetualang.

Dari Cidurian menaiki angkutan kota sekali dan turun di Taman Pramuka, kemudian sendikit menyusuri jalan Begawan maka kutemukan mba Emma dan KKMA-nya. Aku bukan penikmat kopi, tapi tidak menghindari kopi juga. Malam itu mencoba beberapa racikan kopi KKMA yang bahkan dari nama menunya pun sangat kental nama-nama petualangan. Cappucino Carstens, salah satu Kopi yang kupesan, dingin rasanya seperti mendaki salju di puncak Carstens.

kkma

Foto-foto adventure terpasang rapi di dinding KKMA, buku-buku khas petualang pun melengkapinya di rak-rak buku di sudut dalam. Betah rasanya di sini, duduk dalam keremangan sambil menikmati suasana hati yang terbawa antara redup dan pekatnya kopi. Pantas memang di sini sering dijadikan jujugan para petualang yang singgah di kota Bandung.

DSC02694

Taman Dago yang dingin.

 

Sampai tengah malam, Aku dan Wawan menikmati sajian dan jamuan hangat dari mba Emma di KKMA. Tak ingin beranjak, tapi kami harus meninggalkan kedai kopi yang akan segera tutup. Maka kami yang belum tau mau ke mana malam itu akhirnya memutuskan untuk menuju ke Jalan Dago. Dari bayanganku kawasan Dago adalah jalan ramai yang akan dipenuhi muda-mudi Bandung menikmati malam mingguan.

Maka dengan diantarkan Taxi, aku dan Wawan sampai di perempatan Dipati Ukur. Aku tak tau daerah ini tapi pernah sekali ke sini. Kami berdua pun mencoba mencari pusat keramaian di sekitar jalan itu. Tapi nihil, aku dan Wawan tak menemukan apa yang seperti kubayangkan. Tak ada keramaian seperti jalan Malioboro di Jogja. Padahal kami tak ada rencana lain selain menikmati malam ini dengan tidak tidur. Maunya sih nongkrong sampai pagi.

Menyusuri jalanan yang lengang dan mulai terasa dingin. Dari perempatan Dipati Ukur ke selatan hingga ke Taman Dago. Sempat berhenti di penjual jagung bakar, dan menanyakan ke beberapa hotel yang kami temui. Berharap ada kamar kosong untuk kami berdua, tapi tak ada satu kamarpun yang kosong. Maka tak ada pilihan lain selain menggelandang di kota ini.

“Kita tidur di sini saja Wan, banyak orang yang lagi kerja.” Aku menawarkan ke Wawan untuk istirahat di Taman. Sepertinya tak ada pilihan lain, mau melanjutkan jalan kaki, tapi sampai di mana?. Dan kami tidak begitu tahu medan di sini, malah lebih sering mendengar berita miring tentang Gank Motor yang banyak memakan korban.

Sekitar jam 1 dini hari, hanya ada pembatas taman yang dingin tanpa alas tidur. Kami merebahkan tubuh di sini, mencoba mengistirahatkan raga dan mata ini. Meskipun tak lelap, tapi aku mencoba untuk menikmatinya. Menikmati malam yang semakin ramai dengan pekerja-pekerja yang sedang membangun sebuah panggung untuk acara car free day esok pagi.

…Tertidur sejenak…

 

Serangan fajar…

 

Tubuh ini bergetar, serpertinya tak mampu kuredam dan semakin gelisah. Beberapa posisi tidurpun kucoba, miring kekanan, miring kekiri, kaki ditekuk, kepala ditutupi slayer… tak mampu juga membuatku nyenyak. Dingin yang semakin menusuk ke dalam jaket tipisku ini.

Semakin lama semakin terasa ada yang aneh dari perutku. Sepertinya sambal pedas yang kumakan kemarin mulai bereraksi dalam proses metabolisme tubuh yang berlangsung malam ini. Terasa melilit seperti tambang yang diikat, meremas semakin kuat. Ternyata bukan cuma aku yang merasakan sakit di perut ini. Wawan yang tidur di bawahku pun merasakan hal yang sama.

Maka, pilihan kami pagi itu adalah mencari toilet terdekat. SPBU-lah yang menjadi incaran kami. Mencoba memanfaatkan smartphone, mencari melalui fitur place, dan tak ada hasil yang di dapat. Kemudian berjalan sambil menahan “sesuatu” yang semakin mendesak di ujung tanduk. Menyeberang ke bawah flyover dan berjalan ke arah barat hingga yang kami temui adalah jembatan dengan jalur satu arah tanpa trotoar di kanan kirinya. Aduh!

Beruntung ada angkutan kota yang lewat di waktu menjelang subuh ini. Entah jurusannya ke mana, kami tak perlu mempertanyakanya. Langsung naik dan mata kami berbagi tugas untuk mencari Pom Bensin terdekat yang ditemui. Cukup jauh angkutan kota ini membawa kami melewati Gedung Sate, lurus ke timur dan kemudian berbelok ke utara kearah Cicaheum.

Ah… akhirnya kami temukan sebuah Pom bensin yang gelap dan sepertinya tutup. Tanpa berpikir panjang kami langsung turun dan mencari Toliet untuk menuntaskah serangan fajar yang cukup membuat shock perut kami. Apalagi tubuh ini belum sempat istirahat dengan baik.

Tangkuban Perahu, kami yang pertama

DSC02719

Ah, lega rasanya menemukan Pom bensin yang mungkin aku tak akan menemukannya lagi posisinya. Subuh belum juga menjelang, Bandung yang dingin dan masih tertidur. Berbekal sedikit informasi jalur angkot kemarin, pagi ini kami segera menentukan tujuan untuk meneruskan sisa waktu di Bandung dengan mengujungi Tangkuban Perahu.

Kebetulan angkot yang kami temui selanjutnya adalah angkot biru menuju ke Ladeng. Bedesakan dengan pedagang kerupuk, aku dan Wawan duduk di bangku paling belakang, dan kemudian tertidur di antara tumpukan kerupuk yang hangat itu.

Dari Ladeng, melanjutkan dengan angkot berikutnya ke Lembang. Kami tertidur lagi di angkutan kota itu. Dan dibangunkan kembali saat kami sampai di kota Lembang sebagai penumpang terakhir di angkot itu. Masih gelap dan kabut di Lembang sangat pekat. Sedikit bertanya dan dari Lembang kami kembali menaiki angkutan kota sampai ke pintu masuk ke Tangkuban Perahu.

Baru jam 6 lewat. Pintu masuk ke objek wisata Tangkuban Perahu baru dibuka jam 8 nanti. Tak mau menunggu lama, pagi itu kami mulai dengan mencoba jalan kaki dari pintu masuk. Tak tau berapa jauh jarak yang bakal kami tempuh nanti. Tapi kami berharap akan menemukan angkutan kota yang menuju ke Kawah Ratu.

Berpeluh ria, di jalanan beraspal yang kanan kirinya merupakan hutan tropis yang rapat. Aku menikmatinya, menggendong daypack yang tak begitu berat. Entah dengan Wawan apakah dia menikmatinya atau tersiksa melewati tanjakan ini.

2 jam yang kami butuhkan, sampai akhirnya kami mencapai kawasan Kawah Ratu di Tangkuban Perahu yang belum ramai. Baru beberapa mobil yang terparkir di jalanan sepanjang kawah. Kami berdua pun ikut berbaur menimati pemandangan kawah gunung yang khas dengan bau belerangnya. Kemudian mengambil bangku pajang di sudut pedagang souvenir, kembali merebahkan badan dan menuntaskan tidur yang belum genap semalam.

DSC02722

Setelah istirahat cukup, kami lanjutkan dengan memutari seperempat kawah ini yang lebih banyak dijadikan tempat berdagang souvenir. Cukup terata rapih, beraneka warna souvenir khas tanah Sunda. Aku tak terarik untuk membelinya, karena hampir tak ada aksesoris yang biasa kupakai kecuali jam tangan di pergelangan tangan kiriku ini.

Dua jam di sekitar kawah, kemudian kami memilih untuk meninggalkan kawasan Tangkuban Perahu ini menumpang angkutan pertama yang turun ke Lembang. Dari Lembang kami lanjutkan ke Ciampelas. Dan menemukan Travel yang akan mengantarkan kami kembali ke Jakarta. Dari pengamatanku sejak turun dari Tangkuban Perahu hingga sampai di Jakarta, Wawan tertidur dengan pulasnya. Sepertinya dia sangat kecapekan mengikuti gaya petualanganku yang sedikit bonek alias bondho nekat ini. [hans]

Ah, semoga engkau tak kapok mengikutiku lagi kawan…

DSC02727 DSC02726 DSC02716

DSC02714

DSC02713 DSC02707 DSC02703 DSC02702

*foto diambil menggunakan kamera HP Soner G502

Thanks to:

-Wawan, Mba Emma & KKMA.

==================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

==================================================================

Advertisements

2 responses to “Bandung Yang Dingin

    • Sering sering main ya, sejak 2007 mulai dari M* dan per Agustus 2012 diboyong semua kesini. Sekarang yg di M* sudah benar-benar RIP. Foto-foto tak terselamakan (tapi foto asli masih ada), semua tulisan selamat. hanya saja banyak foto pelengkap di blog yang hilang…perlu di tata ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s