Mudik, Melintasi Jalur Tengah Jawa

Memulai Perjalanan 420 km Dalam 17 jam,

16 Agutus 2012.

 

Aku pernah menganggap hanya orang bodoh yang mau mudik lebaran menggunakan sepeda motor. Apalagi jika mengajak anak dan istrinya menaiki kendaraan yang sebenarnya hanya didesain untuk perjalanan jarak pendek dalam kota. Tapi fenomena tersebut semakin menjadi trend di negeri ini saat pemerintah sepertinya tak mampu memenuhi kebutuhan transportasi rakyatnya. Sepeda motor menjadi pilihan yang mudah dan murah dengan mengabaikan faktor keselamatan. Ribuan pemudik meninggal di jalan raya pada setiap musim lebaran.

Kali ini, di lebaran kedua setelah hampir dua tahun aku tinggal di Jakarta cerita bodoh itu kumulai. Tiket Kereta Api yang sudah habis terjual serta dan macet panjang jika menggunakan Bus angkutan umum menjadi alasanku. Saat Jakarta tidak memberikan pilihan lain, aku mengikuti kebodohan itu dengan mudik menggunakan sepeda motor dari Jakarta ke Gombong, menempuh jarak sejauh 420 km.

===================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

===================================================================

Sebenarnya aku pukan tipe perantau yang harus selalu mudik ke kampung halaman setiap Hari Raya Iedul Fitri. Saat aku tinggal di Surabaya, aku lebih sering bekerja di saat orang lain sedang berkumpul bersama keluarganya. Menyibukkan diri dengan traffic #duniakabel yang selalu melonjak jika musim mudik tiba. Sepertinya kali ini faktor jiwa #turupasar-ku berperan kuat untuk meniati perjalanan ini. Pertama kali mudik menaiki sepeda motor melewati beberapa kota di Jawa Barat yang belum pernah kujamah.

“Dulu saya berpikir, bodohnya orang yg mau mudik pakai motor. Apalagi bawa anak istri. Dan ketika Jakarta tak memberikan pilihan lain, kali ini saya menjalani kebodohan itu… 270 km dari 420km telah dilalui…feeling “adoh lor adoh kidul” alias jauh ke mana-mana #turupasar”

***

Hanya menemukan Andri yang akan menjadi teman seperjalanan. Andri adalah seorang teman dari Purworejo yang kukenal pertama kali saat pendakian ke Gunung Argopuro tahun 2008. Kami akan menaiki dua motor. Andri menggunakan shopie-nya sedangkan aku menggunakan motor Tiger yang dipinjamkan oleh temanku. Kami sedang bertukar motor dengan Si Otong, bebek kesayangan.

Maka touring panjang kami mulai dari rumah kosku di Mampang. Baru di perempatan pertama, kami sudah berpisah. Kemudian bertemu kembali di perempatan Ragunan. Kami ingin melalui jalur selatan lewat Bandung, karena jalur Pantura dipastikan macet total oleh pemudik.

Kota pertama yang kami tuju adalah Cileungsi. Tanpa pengetahuan yang baik tentang kota-kota di Jawa Barat, dan akhirnya baru saja di daerah Cijantung aku dan Andri harus bertanya beberapa kali untuk menemukan jalan tembus menuju ke Cileungsi. Dan selepas Cileungsi, jalanan yang mulus serta tidak terlalu padat sampai ke Jonggol hingga Cariu.

Di pertigaan Sukaluyu, setelah 3 jam perjalanan kami beristirahat untuk pertama kali. Motor yang kunaiki ini memang cukup mantap untuk perjalanan jauh. Dengan kapasitas blok pembakaran hampir 200cc dan berat sekitar 140kg, menghasilkan power yang cukup kuat. Menyalip Bus dan Truk sepertinya akan sangat menyenangkan.

Jam 1 dini hari, melewati jalan Sukarno Hatta Bandung. Jalanan yang luas, lurus dan panjang ini mulai padat oleh pemudik sepeda motor yang saling kebut-kebutan. Sepertinya motor adalah raja jalanan yang tidak mau mengalah satu dengan lainnya. Dan aku di antaranya, memacu sang kucing besar ini hampir menyentuh 100 km/jam. Mungkin kucing-kucing ini bernyawa sembilan hingga berani memacunya secepat itu.

Sebelum meninggalkan Bandung, aku istirahat sebentar sambil menunggu Andri yang sudah tertinggal sejak di Cimahi. Mencari menu sahur dan kemudian melanjutkan perjalanan yang baru 180 km ini, belum separuhnya.

Keluar dari Bandung, jalanan mulai menyempit dan padat hampir merayap. Sampai akhirnya harus benar-benar merayap menjelang Nagreg. Sepeda motorpun tersisihkan dari jalanan beraspal. Turun di bahu jalan dan merayap hingga sampai ke Malangbong.

Sejak dari Nagreg aku kehilangan Andri lagi. Melewati jalur Malangbong-Tasikmalaya yang sangat dingin. Sempat mendapatkan SMS dari Andri, kalau dia beristirahat dan tidur di sekitar Malangbong. Aku pun berniat mengistirahatkan tubuh ini setelah hampir 6 jam mengendarai motor. Dan baru menemukan tempat nyaman sebelum memasuki kota Ciamis. Memarkirkan motor di bawah Pintu Gerbang kota Ciamis dan menguncinya. Menemukan pelepah pohon Palm sebagai alas, kemudian tertidur di atas taman rumput.

 mudik

Pukul 8 pagi, matahari mulai terik membangunkan tubuh yang sudah letih ini. 270 km telah kutempuh dan hampir 10 jam kulalui. Sepertinya sudah mulai bosan kebut-kebutan di jalanan yang padat. Mulai bosan memainkan tuas kopling dan putaran gas motor. Di sinilah aku mulai merasakan kebodohan itu yang kutulis dalam status facebook-ku.

Hingga jam 9 belum kutemui Andri kembali, entah dia telah melewatiku atau masih tertidur di tempat istirahatnya. Dengan pertimbangan lain takut kalau ternyata Andri telah mendahuluiku akhirnya kembali kupacu sang kucing ini. Sedikit macet melewati Kota Ciamis, kemudian Banjar dan akhirnya sampai di perbatasan Jawa Tengah. Hmm… seperti menghirup udara kampung halaman.

Sampai di Wanareja, dan kemudian mengikuti arahan penunjuk jalan untuk melewati jalur alternatif yang meskipun halus dan sepi tapi malah makin memutar melewati Sidareja, Jeruk Legi dan sampai ke Cilacap.

Tubuh yang sudah sangat payah inipun akhirnya mampu menyelesaikan 420 km dengan waktu tempuh hampir 17 jam. Sampai di rumah dan berkumpul dengan keluarga adalah anugerah terindah. Merasakan momen langka bagiku, setelah 14 tahun lebih menjadi seorang perantau.

Ternyata jarakku dengan Andri tidak terlalu jauh, hanya berbeda setengah jam. dan sempat mendapat ocehan dari Andri lewat SMS-nya. “Mbuhlah…!! Moso bebek kon nguber macan…” hahaha. Maafkan kawan!.

Bersambung….

Hans

http://www.trihans.com | @trihansdotcom

===================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

===================================================================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s