Pantai Menganti, Private Beach di balik bukit Karts

Gombong, 22 Agustus 2012

Terlalu cepat menjadi seorang perantau, saat baru lulus SMP. Dan juga terlalu lama meninggalkan kota di mana aku dibesarkan ini. Maka mau tidak mau aku kehilangan teman-teman masa kecil yang juga memilih jalan hidup sama sepertiku menjadi seorang perantau. Itulah yang terjadi di Jawa Tengah. Hampir sebagian pemudanya meninggalkan kota asal menjadi perantau di kota besar.

Akupun kehilangan banyak sahabat, dan hanya satu-dua yang masih berhubungan. Denie salah satunya, teman masa kecil sejak SMP yang juga hijrah ke ibu kota. Dialah sahabat petualang pertamaku. Dahulu, hampir setiap akhir pekan kami berkeliling mencari tempat-tempat tersembunyi di sekitar Gombong. Dengan menaiki sepeda ontel kami menjelajahi jalur-jalur desa hingga sampai ke Bendungan Sempor, Kali Putih di Tunjung Seto, ada juga sebuah curug yang cukup bagus. Ah… aku lupa namanya, dan masih banyak lagi tempat bermain masa kecilku. Kini ternyata tempat bermainku sudah semakin luas sejak menjadi seorang perantau atau “Imigran sibuk” tepatnya.

DSC08337

Sepeda motor Tiger yang kubawa ini adalah milik Denie. Kami bertukar motor karena istrinya sedang hamil, maka si Otong untuk sementara beganti tuan. Sudah menjadi kebiasaanku untuk berkunjung ke rumahnya jika sedang berlibur. Sudah menjadi kebiasaan kami juga akan merencanakan liburan seperti masa kecil kami. Dan kali ini aku tertarik untuk mengunjungi Pantai Menganti di atas Pantai Karangbolong.

===================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

===================================================================

***

DSC08341

Sore yang terakhir, setelah hampir seminggu menikmati libur lebaran bersama keluarga. Sesuai dengan rencana sebelumnya, Kami bedua akan ke Pantai Menganti dengan mengajak Amy. Temannya Denie yang juga seorang dosen bahasa Mandarin di Unsoed.

Menjemput Amy di rumahnya, dengan dua motor kami mencari pantai indah yang tersembunyi di balik perbukitan terjal itu. Melewati jalur Ngijo yang padat oleh pemudik, kemudian ke selatan hingga melewati Goa Jatijajar. Masih terus ke selatan sampai ke Pantai Logending. Dari sini jalanan mulai menanjak dan berliku memaksa motor-motor ini memakai gigi terrendah.

DSC08346

Aku pernah melewatinya beberapa tahun kemarin. Saat mencoba mencari jalan tembus dari Pantai Logending ke Pantai Karangbolong. Dan sore ini jalan tembus ini telah resmi menjadi jalur alternatif dari Cilacap sampai ke Yogyakarta menghubungkan hampir 280 km jalur Pantai Selatan Jawa Tengah. Perbukitan ini terkenal dengan batuan kapur dan karts yang menyimpan banyak Goa-Goa tersembunyi. Salah satunya yang pernah ku jelajahi pertengahan tahun 2011 kemarin.

Beriringan dengan mobil-mobil pemudik yang mencari jalur alternatif. Di salah satu pertigaan terpampang sebuah penunjuk arah masuk ke Pantai Menganti. Berbelok ke kanan, dengan jalanan yang masih menanjak dan kanan kirinya adalah rumah penduduk. Hingga akhirnya tak ada lagi rumah penduduk berganti dengan hutan-hutan kecil tanaman kayu sengon yang ditanam warga.

Jalanan masih meliuk dan kadang menanjak atau menurun dengan terjal. Sampai pada satu sisi bukit di mana kami melihat garis pantai yang begitu luas membatasi bumi ini. Indahnya, aku takjub sejenak dan segera menyiapkan kamera SONY A230 berlensa Minolta Beercan kesayanganku. Tepat matahari sunset hampir tenggelam. Mengambil banyak frame bergantian kami berfoto di keindahan alam yang tersembunyi di balik terjalnya bukit karts ini.

DSC08366

Turun ke bawah dan semakin takjub oleh semenanjung kecil yang merupakan Tempat Pelelangan Ikan ini. Perahu-perahu nelayan tertata dengan rapi di bibir pantai. Tebing terjal membatasi di sisi utara, dan sebuah mercusuar berdiri kokoh di ujung semenanjung ini.

DSC08390

Ahhh… terlalu singkat waktuku kali ini, hanya berjarak antara matahari tenggelam hingga sinarnya hilang tak berjejak. Menyisakan cahaya sendu ditemani deburan ombak Laut Selatan yang terkenal ganas. Kurang puas, tapi tak bisa berbuat banyak. Karena saat kami baru mau menanjak pulang, sudah tak ada lagi cahaya matahari berganti dengan kegelapan hutan-hutan kecil yang sepi menyembunyikan pantai ini.

Aku akan kembali suatu saat nanti. Harus!!

Bersambung…    

Hans

http://www.trihans.com | @trihansdotcom

===================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

===================================================================

Advertisements

4 responses to “Pantai Menganti, Private Beach di balik bukit Karts

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s