Situs Gunung Padang yang tersembunyi ribuan waktu

Cianjur, 26 Agustus 2012

DSC08624

Bisa libur 9 hari untuk mudik adalah sesuatu yang wah bagi seorang engineer #dunikabel seperti aku ini. Kebetulan saat ini aku sedang dalam masa peralihan, meninggalkan pekerjaan lama dan mendapatkan tanggungjawab baru. Maka untuk lebaran kali ini aku tidak mendapatkan jadwal piket menunggui link-link telecom yang sudah pasti sedang dalam masa kritis melayani kebutuhan lebaran.

Memang tak bisa dipisahkan, meskipun mudik aku selalu memikirkan jeda waktu untuk memenuhi jiwa #turupasar menjelajah ke suatu tempat baru. Dan kali ini kubagi hari liburku dengan 6 hari mudik di rumah orang tua dan 3 hari di Bandung. Dengan tujuan utama mengunjungi Situs Gunung Padang di Cianjur.

 DSC08582

***

Arus balik kali ini tidak lagi berdua dengan Andri, tapi sendirian melewati jalanan yang belum banyak kukenal. Menikmati meliukkan sang kucing, berkejaran dengan kucing-kucing lain dan sedikit ngumpet jika ada pasukan Ninja Hatori yang menyalipku. Tak ada yang aneh sejak dari Gombong sampai ke Bandung. Hanya sempat berkunjung ke rumah seorang sahabat lama di Majenang. Sahabat lama yang hampir sepuluh tahun tidak bertemu.

Menginap dua malam di rumah saudara di Bandung. Menyempatkan mengunjungi KKMA di tempat barunya di jalan Laswi dan bertemu dengan mba Emma. Sambil memamerkan buku #turupasar ini  yang masih cetakan pertama dan dalam tahap editing. Karena di dalamnya ada kisahku berkunjung ke KKMA saat masih berada di dekat Taman Pramuka. Dari mba Emma pula aku mendapatkan sedikit info lokasi Situs Gunung Padang.

Dan pagi berikutnya, dengan modal informasi yang sangat minim karena tak kutemukan dengan detail di internet. Maka aku mempercayakan visual mata ini mencoba mencari papan penunjuk arah ke Situs Gunung Padang. Karena ketidak tahuanku dengan daerah di Jawa Barat malahan tanpa sadar aku melewati Cianjur terlalu jauh dan baru tersadar saat melewati pintu Pendakian TNGP di Cibodas. wooow! kebablasen!

Berhenti di pinggir jalan di daerah Pacet-Cibodas. Kemudian browsing dan menemukan kecamatan di mana Situs itu berada. Kecamatan Cempaka, itulah acuanku. Di Google map terpampang jarak sejauh 34 km aku harus berputar balik. Dengan pertimbangan jam ditanganku masih menunjukan pukul 11 siang. maka kuputar balik kembali mencari lokasi situs Megalitikum terbesar di Asia Tenggara ini.

Kembali ke Cianjur, aku memilih mengawali dari jalur masuk kota ini, dan mengambil persimpangan ke kanan menuju ke Cibeber, karena google map mengarahkanku ke sana. Semakin jauh meninggalkan Cianjur, mungkin hampir 30 km dan jalanan yang semakin menanjak dengan aspal yang kasar dan menyiksa.

Hampir putus asa, sampai akhirnya kutemukan papan hijau bertuliskan “SITUS GUNUNG PADANG 16KM”. Byuhhh!! masih 16 km lagi, dan kali ini jalur yang harus kulalui adalah jalur berbatu rusak parah di tengah-tengah kebun teh. Sendirian melewati hutan belantara tanpa pohon yang terik dan beberapa kali menemui kampung-kampung kecil di antara kebun teh.

DSC08595

===================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

===================================================================

 

Kembali hampir putus asa, Tiger yang kunaiki kali ini tak bisa ngebut lagi. Jalanan batuan yang kering dan menyiksa tangan karena harus menahan berat bobot motor ini jika melewati tanjakan, lengah sedikit bisa saja aku terlempar.

Setelah hampir 2 jam melewati kebun teh ini dengan peluh dan tenaga yang tidak sedikit, kutemui kembali pertigaan dan papan yang menunjukan tujuanku kurang 3 km lagi. Kembali bersemangat dan tak lama kemudian ketemukan lokasi Situs Gunung Padang ini di tengah-tengah kebun teh seperti baru melewati waktu ribuan tahun lamanya.

DSC08597

Membayar retribusi yang hanya Rp 2.000,-. dan meniti tangga yang cukup membuatku ngos-ngosan. Selain tubuh yang capek di punggungku juga ada backpack 35 lt full pack barang bawaanku. Entah apa yang kucari disana, terpesona dengan pemberitaan media tentang Gunung yang dianggap Piramida ini atau memang menuruti jiwa ngelayapku yang selama seminggu ini cukup tertantang dan terpuaskan dengan serangkaian rencana di sela-sela mudik lebaran.

Situs Megalatikum ini terletak di atas puncak bukit dan sudah dikelola oleh Pemda setempat. Pandangan yang luas dari atas inilah dijadikan nama situs ini, Padang = terang/luas dalam bahasa Jawa atau Sunda. Ramainya pengunjung di sini semakin mengotori situs dengan sampah-sampahnya. Aku tidak bisa menikmati situs ini, karena terlalu ramai seperti pasar. Meskipun ada sebuah menara utuk menikmati situs ini, tapi pengunjung lebih suka duduk-duduk di atas batuan-batuan yang berbentuk seperti persegi dengan jumlah ribuan.

Hanya sekitar satu jam di sana, karena sudah jam 3 sore. Aku harus segera balik meneruskan perjalanan pulang ke Jakarta. Kembali turun dan menaiki motorku. Di pertigaan terakhir yang kutemui di mana terpampang tulisan situs kurang 3 km lagi. Aku bertanya pada seorang arah sebaliknya dari yang kuambil saat berangkat tadi.

DSC08652

Ternyata jalur itulah yang seharusnya kucari tadi di internet. hanya berjarak sekitar 20 km dari Cianjur lewat Warung Kondang tanpa melewati kota lain dan jalan yang dilalui adalah jalur aspal halus tidak seperti yang kutemui di kebun teh tadi. Hiyaaaaa!!.

Satu jam kemudian aku sudah sampai di Cianjur dan langsung meneruskan perjalanan balik ke Jakarta. 4,5 jam untuk menuju ke Jakarta dengan jalanan yang padat oleh arus balik. maka jam 9 malam aku sampai kembali ke rumah kosku di Mampang-Jakarta. Tak ada lagi permainan “Tangkap Tiger” berkejaran dengan kendaraan mudik yang sepertinya tidak mau mengalah satu sama lainnya. Dan mengakhiri kisah bodoh yang telah kujalani ini dengan selamat. [hans]

Thanks to:

-Andri dan Shopie-nya, Keluarga di Gombong- Puring, Denie untuk Tiger dan Pantai Menganti, Amy, Keluarga di Bandung, KKMA dan mba Emma.

 

Selesai.

 

Hans

http://www.trihans.com | @trihansdotcom

===================================================================

Tulisan ini telah di bukukan dalam Kumpulan Catatan Perjalanan “#turupasar Berdiskusi Dengan Alam”.

Dan dapat dipesan secara on line di www.nulisbuku.com atau melalui email admin@nulisbuku.com

link preview : http://nulisbuku.com/books/view/turupasar-berdiskusi-dengan-alam

===================================================================

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s