[Trip Baduy] Kanekes, Tatapan Teduh Manusia Alam

Baduy. Lebak- Banten, 15-16 Juni 2013.

Tanjakan dan tanjakan

Tanjakan dan tanjakan, tertata rapi dalam alunan syahdu mengantarkan kami menuju istana hijau. Menjejaknya dengan nafas-nafas terpatah. Argh!! Hampir melupakan ritme nafas ini, setelah empat tahun lebih tidak bergelut dengan tanjakan sebagai bagian dari satu hobi, satu passion yang meski sekuat apapun kutinggalkan tetap saja selalu melekat dalam penampilan sehari-hari. Menjauhinya tapi semakin kuat menghidupinya, dan melupakanya tapi mengikatnya menjadi sebuah jati diri.

Hup!, lima langkah dan kemudian berhenti lagi, menata kembali sisa nafas dari sistem pernafasan mamalia dengan paru-paru ini. Bagai pembakaran tidak sempurna, sekuat apapun tuas gas di tarik, semakin banyak bahan bakar yang terbakar tanpa ada energi kinetik yang dihasilkan. Hukum kekekalan energi sepertinya tidak berlaku di sini, energi yang dilepaskan akan sebanding dengan energi yang diterima. Maka Nafas yang kutarik sedalam-dalamnya, hanya berujung pada langkah terengah menikmati derita tanjakan ini.

Hup…hup…hup.. paru-paru seperti berhenti memainkan fungsinya, atau malah perut yang mengambil peran lebih. Aku kepayahan melewati trek naik turun yang sepertinya tidak ada habisnya. Dan ini belum setengahnya, baru sekitar 2 jam kami memulainya. Perbatasan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam pun belum kulewati. Entah di bumi bagian mana aku berpijak, hanya satu keyakinan akan kutemui sebuah kedamaian alam yang melindungi ditengah rimba dan kehidupan manusia alam.

Kami memulainya

Sejak pagi tadi kami memulainya dari Jakarta, berkumpul di Stasiun Tanah Abang pukul 7:30 pagi. Riri kecil sang leader perjalanan kali ini membagikan tiket kereta ekonomi ber-AC dengan tujuan Jakarta -Rangkas Bitung. Dari 18 peserta, separuh di antaranya adalah wajah-wajah 4L yang selalu lu lagi lu lagi.Maka tak banyak mengenalkan diri karena kami sudah saling kenal cukup lama sebagai teman seperjalanan menjelajahi keindahan negeri ini dan meprokalmirkan diri sebagai Pendaki Seven Eleven,minumnya Susu Kedelai (*red. Irda).

Kereta ekonomi ber-AC yang padat, maka 6 unit AC dengan kekuatan 1 PK yang terpasang dalam satu rangkaian gerbong ini tak mampu mendinginkan kami yang penuh sesak berbagi tempat duduk dengan penumpang lain. Hanya sekitar 2 jam kemudian kami sudah sampai di Stasiun Rangkas Bitung. Kemudian disambung dengan menggunakan Elf yang sudah disiapkan panitia. Elf akan mengantarkan kami sampai ke Terminal Ciboleger. Salah satu pintu masuk untuk menuju ke perkampungan Baduy di Propinsi Banten ini.

Baduy yang diperkirakan berasal dari nama Badawi (salah suku di Jazirah Arab), awalnya merupakan suku nomaden yang menghidupi perbukitan 40km di selatan kota Rangkas Bitung. Warga Baduy lebih senang disebut sebagai urang Kanekes (*Wikipedia). Tujuan kami kali ini adalah berkunjung dan bertamu ke salah satu perkampungan Baduy Dalam di desa Cibeo. 4 Jam perjalanan kaki dari Ciboleger, begitu informasi yang kudapatkan dari April, seorang kawan lama yang saat ini membantu mengantarkan kami ke Baduy. Cukup mendapatkan banyak informasi darinya tentang suku yang menganut Sunda Wiwitan sebagai kepercayaannya kepada Tuhan.

Baduy Luar

Maka, setelah 2 jam perjalanan ini, tanjakan yang sepertinya menguras tenaga dan mungkin juga mengecilkan nyali ini hampir saja memupuskan semangat. Untung saja awan hitam yang sejak tadi menggantung akhirnya menumpahkan air segar, hujan. Ah! Seperti menemukan semangat baru, energi yang tak disangka dari mana datangnya mengembalikan semangat tubuh ini. Maka setelan basah yang telah kusiapkan ini kembali mengiringi kami yang kali ini semakin ramai berbaur rombongan lain. Sepertinya perkampungan Baduy Dalam akan riuh nanti. Ah, semoga tetap senyap seperti kami tidak pernah hadir di sana.

Baduy Dalam

Beberapa berbukitan dan kampung Baduy Luar kami temui, sampai akhirnya sebuah jembatan bambu panjang yang kedua kami temui untuk menyeberangi sungai. Sungai inilah batas antara Baduy Dalam dan Baduy Luar. Di sini kami harus mulai mengikuti adat istiadat dan peraturan yang ada. Tidak boleh mengambil foto, tidak boleh menggunakan teknologi dan tidak boleh menggunakan bahan kimia seperti sabun dan pasta gigi selama kami berada di Baduy Dalam.

Dari Jembatan bambu ini, sebuah tanjakan panjang menanti kami, ada yang menyebutnya Tanjakan Cinta, Ah seperti di Semeru saja. Hup..hup.. kembali nafas ini terengah, dan persendian di lutut ini pun sepertinya mulai kehabisan pelumas, terbakar karena gesekan yang lebih banyak dari kebiasan kami sehari-hari yang hanya digunakan seperlunya saat teknologi membantu dan mempermudah kehidupan kami di kota.

Sepertinya masih belum habis tanjakan dan turunan yang kami lalui. Beberapa kali kami menemukan rumah-rumah adat Baduy yang berdiri sendiri tanpa ada rumah lain di sekelilingnya. Senyap, aku coba memperhatikan dengan seksama, tapi sepertinya tidak ada kehidupan di sana. Apakah rumah itu kosong, ataukah mereka mengurung diri dalam saat kami melewatinya. Beberapa warga Baduy yang berpapasan dengan kami pun terkesan diam, dan berlari kecil meninggalkan kami.

Masih gerimis dan hari hampir gelap, sudah lima jam lebih kami berjalan kaki sejak dari Terminal Ciboleger. Akupun terpisah dari rombongan dan berjalan dengan beberapa rombongan lain yang tidak kukenali. Kemudian beberapa rumah rumah kecil yang merupakan lumbung untuk menyimpan hasil bumi warga Baduy kami lewati. Aku berhenti sejenak, kemudian mencoba menghitung jumlahnya. Tapi kemudian melupakan urutan hitunganku dan lebih memilih mengamati konstruksi dari bangunan mungil ini.

Lumbung Baduy dikenal sebagai tempat penyimpanan hasil padi yang aman dari hama tikus, sehingga padi yang disimpan bisa bertahan hingga beberapa tahun. Bahan makanan yg disimpan di lumbung ini bukan untuk dikonsumsi sehari-hari, tapi digunakan untuk menyimpan cadangan bahan makanan jika terjadi bencana atau masa paceklik. Karena suku Baduy yang kuat mempertahankan pituturleluluhurnya ini, mereka tidak bercocok tanam dengan model modern yang kita kenal. Mereka tidak menggunakan pupuk maupun teknik seperti terasering, Padi yang mereka tanam tidak di areal persawahan tapi merupakan padi kering yang ditanam di ladang mengandalkan cuaca.

Bermalam di Kampung Cibeo

Sayup-sayup di balik rerimbunan hutan bambu setelah melewati Lumbung-lumbung yang dibangun terpisah dengan perkampungan ini. Kembali menemukan sekumpulan rumah adat dengan atap yang terbuat dari daun kelapa yang diikat dan ditata dengan rapih, Itulah kampung Cibeo, Salah satu perkampungan warga Baduy yang menerima kedatangan orang luar sebagai tamu, masih ada beberapa kampung Baduy Dalam lainnya yang masih tidak menerima kedatangan orang asing. Dan untuk WNA/Turis Mancanegara secara mutlak tidak akan diijinkan untuk masuk ke Baduy Dalam. Mereka memang sangat protektif untuk menjaga keaslian budaya mereka. Dengan secara selektif memilih orang-orang yang boleh memasuki perkampungan mereka. Maka kali ini kami berada diantara puluhan pendatang menjadi tamu warga Baduy di Kampung Cibeo.

Sesampainya di rumah tujuan kami, membersihkan diri di sungai dangkal dengan aliran yang cukup deras kemudian menganti pakaian basahku dengan yang masih kering. Di dalam rumah kami mulai menyiapkan kehidupan malam tanpa listrik, tanpa gadget, tanpa dunia maya. Kami berhaha-hihi saling memperkenalkan diri.

Rumah yang kami tinggali adalah milik Kang Herman, dengan seorang istri dan tiga orang anaknya. Wajah-wajah mereka sungguh lugu melihat tingkah kami yang sedang beradaptasi dengan kehidupan gelap tanpa cahaya. Rumah ini letaknya disisi paling pinggir dari perkampungan ini, boleh dibilang ini adalah rumah pertama yang kami temui di Cibeo yang terletak di pinggir perkampungan.

Rumah ini menghadap kearah utara. Meskipun melewati hutan dan tanjakan yang berkelok orientasiku tentang arah mata angin masih bisa merasakanya dengan benar. Rumah ini berukuran sekitar 6×6 meter dan terbagi menjadi empat bagian. Empat bagian yang saya maksud adalah empat sudut yang dibatasi dengan kayu yang melintang membujur di tengah membagi rumah ini dengan empat sudut hampir sama. Dengan satu sekat ruangan dalam yang merupakan bilik si empunya rumah. Kayu ini selain sebagai pembatas adalah merupakan penopang utama rumah ini.

Suku  Baduy berpegang pada satu keyakinan, “Yang panjang tidak boleh/tidak bisa dipotong dan yang pendek tidak boleh/tidak bisa disambung”. Sehingga dengan keyakinan ini bangunan maupun rumah suku Baduy kadang ditemui tidak simetris karena mereka tidak memotong kelebihannya dan tidak menyambung kekurangannya. Begitu juga untuk bercocok tanam, mereka hanya menanamnya dengan mengandalkan siklus alam sebagai rasa bersyukur kepada Tuhan.

Bilik dalam yang merupakan area milik empunya rumah berisi pawon dan perabotan rumah yang sebagian besar terbuat dari bambu. Bakul, Tampah yang terbuat dari bambu dengan berbagai ukuran. Gelas yang terbuat dari potongan pangkal bambu. Untuk sendok mereka menggunakan logam, sedangkan untuk piring atau mangkuk-mangkuk kecil terbuat dari keramik dengan model yang kuno bukan seperti piring kristal yang sering kita gunakan.

Rumah ini dengan rangka utama dari kayu dan untuk sekat maupun penutup rumah terbuat dari anyaman bambu. Dengan alas yang juga terbuat dari bilah-bilah bambu yang ditutupi tikar daun pandan. Tiang utama rumah ini berada di tengah, dan saya melihat ada carang (ranting) bambu yang digunakan sebagai gantungan baik gantunyan lampu minyak maupun benda lain yang digantung. Untuk atapnya terbuat dari daun kelapa kering yang ditumpuk. Dan satu keunikan dari rumah ini, meskipun kokoh tapi bangunan ini tidak mengenal yang namanya paku. Mereka menggunakan pasak yang terbuat dari kayu juga sebagai penyatu tiap sambungan.

Kami ber-18 bermalam di satu rumah ini, tak ayal. Ketika ada satu pedagang souvenir yang datang, beberapa diantara kami berkumpul di satu titik. Beban yang tak seimbang dengan kekuatan penopang menyebabkan kayu penyangga patah. Mungkin karena sudah lapuk dan berumur. Maka satu sudut utama di pintu rumah yang kami inapi ini jebol tanpa penyangga. Beruntung tidak ada korban di antara kami. Dan tentunya menjadikan kami merasa sungkan dengan tuan rumah karena telah merusak rumahnya, Maafkan kami…

Ketika malam beranjak, hanya kesenyapan yang kami temui. Tak ada penerangan sama sekali di perkampungan ini. Di rumah yang kami tinggali juga hanya terdapat dua titik lampu minyak dengan penerangan yang sangat minim. Tapi di kegelapan itu masih bisa ditemui warga Baduy yang sedang beraktifitas. Masih ada di antara mereka yang beriiringan mengangkat kayu, ataupun bilah bilah bambu. Juga sekedar beriringan bersama sanak saudara. Mereka berlari kecil melewati jalan berlumpur yang licin, lincah sekali.

Dan di dalam rumah, kami semakin hangat melingkarkan tubuh di dalam selimut dan sarung kami, bercengkerama dan berkenalan dengan beberapa teman baru. Teteh istrinya kang herman, sebagai tuan rumah meracik menu makan malam kami. Hm, penasaran dengan menu yang beliau siapkan. Sebelum berangkat kemarin, Riri menginstruksikan kami untuk membawa beras dan ikan teri. Beras ini nantinya akan diolah sebagai makanan kami dan ikan teri sebagai oleh-oleh tuan rumah.

Menu sederhana, nasi putih ditemani sayur kangkung dan lauk ikan sarden habis kami serbu. Beberapa di antara kami ada yang mengenyangkan diri dengan menyeduh mie gelas. Dan sesudahnya kami berhaha hihi saling memperkenalkan diri. Meramaikan sejenak keheningan kampung Cibeo. Kemudian kami memilih merebahkan diri, memposisikan tubuh untuk istirahat, meskipun sebenarnya mata kami masih belum mengantuk. Hingga akhirnya semua benar-benar senyap dan tak ada suara lagi.

Pagi berikutnya

Keesokan paginya, subuh membangunkan kami. Perkampungan Baduy yang rata-rata berada di ketinggian 300-500 mdpl, tidak terlalu dingin dengan suhu 20 derajat celscius. Tapi udara yang begitu sejuk kami dapatkan. Hijau dan rapatnya hutan tropis menyembunyikan desa-desa ini dari kehidupan modern. Suara jangkrik yang menemani malam kami kini berganti dengan kokok ayam. Tidak melihat mereka memelihara ayam dengan mengandangkannya, tapi saya melihat beberapa ekor ayam berkeliaran di sana. Ada juga beberapa kali memenui orang Baduy membawa ayam kampung.

Pagi ini kami harus bersiap kembali ke Jakarta, sedih rasanya meninggalkan suasananya yang begitu damai dan sangat bersahabat ini. Kemarin malam kami hanya menemui beberapa warga Baduy yang menjadi guide dan porter kami. Pagi ini, anak-anak kampung Baduy berjajar melihat kami dengan tatapan polosnya, ah bukan, tapi kami yang melihat mereka dengan penuh tanya. Kagum,mungkin juga takjub masih ada komunitas yang begitu kuatnya menjunjung kearifan alam. Mereka tanpa pendidikan formal, bahkan baca tulisapun tidak mereka kenali dan ajaran hidup diturunkan secara lisan. Tapi dengan kemurnian itu, pola pikir mereka tidak terkontaminasi dengan kerakusan dunia yang setiap hari menjadi tontonan dan makanan kita di kota besar.

Malu rasanya, kami yang mengaku berilmu tinggi lebih cenderung berbuat kerusakan menghabisi alam dengan kerakusan. Lupa mau diberi apa anak cucu kita nanti, semua demi ambisi sesaat.. argh!..

Pukul 7:30 pagi, kami beriringan melewati sela-sela perkampungan Cibeo yang tidak begitu luas, mungkin hanya sekitar 40an rumah yang berdiri disana. Kami adalah kelompok pertama yang pagi itu meninggalkan Baduy Dalam. Beberapa diantara kami menyalami penduduk asli Cibeo. Tatapan mereka teduh terhadap kami, sungguh sebuah keluguan dan wajah innocence yang menyejukan hati. Mereka ada untuk menjaga keseimbangan alam disekitarnya.

Pulang

Naik turun kembali menjadi sarapan pagi berupa tanjakan basah dicerukan bumi ini. Hutan tropis yang rapat dan lembab. Kami terengah melewatinya. Beberapa perkampungan masih kami temui, sampai akhirnya ada aliran sungai kecil dimana disanalah perbatasan antara Badui Dalam dan Badui Luar. Sambil menunggu team yang di belakang sejenak kami melupakan peluh dan keringat ini dengan mengeluarkan kamera.

Jalanan mulai banyak menurun, kampung demi kampung Baduy Luar kami lewati, kemudian mengambil arah menurun yang tajam. Tujuan kami selanjutnya adalah Jembatan Akar. Wow! Itu yang terucap, seksama aku memperhatikan kontruksi dari jembatan yang mungkin sudah berusia ratusan tahun ini. Jembatan ini dibuat dari akar-akar pohon yang menjuntai, kemudian dikaitkan satu dengan lainnya hingga membentuk sebuah jembatan menghubungkan sisi satu ke sisi lainya untuk menyeberangi sungai.

Tak lama kami berpose di jembatan itu, karena team berikutnya telah menyusul rombongan kami. Bergantian dengan team yang lain, dan kami pun melanjutkan melangkah menuruni perbukitan ini. Hampir kepayahan melahap tanjakan dan turunan yang terasa tiada habisnya. Inilah sebuah perjuangan untuk mengunjungi sebuah kehidupan damai yang tersembunyi di rimbunnya hutan rimba. Mungkin kapok untuk kali ini, tapi selalu ada kerinduan untuk kembali bersapa dengan pemilik tatapan teduh milik urang kanekes.

#semua foto diambil di area Baduy Luar

-hans-

www.trihans.com | @trihansdotcom

Advertisements

4 responses to “[Trip Baduy] Kanekes, Tatapan Teduh Manusia Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s