Menulis Tunda yang Tertunda

Tak semua catper yang ada di blog ini kutulis langsung saat ingatan dan aromanya masih hangat, ada yang kutulis secara terpisah beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelahnya, dan ada yang lebih lama lagi sampai dengan durasi dua tahun setelah event itu berlangsung. Ada juga yang nasibnya hanya jadi waiting list. Tanpa ada perkembangan untuk memulainya dan hampir terlupakan untuk mengawali dari kata pertama.

***

Pulau Tunda – Serang, 17-18 Mei 2013

Lagu, adalah jam paling sederhana yang kita kenal. Alunannya akan selalu membalikan kita pada satu moment berharga yang kadang kita cocok-cocokan dengan lirik dan alunannya. Oleh karena itu, meskipun  aku tidak menguasai satu alat musik sebagai salah satu penguatan karakter yang biasanya tumbuh dalam diri seseorang. Setidaknya aku mencoba untuk mengalihkannya dengan tulisan dan gambar-gambar desain yang selama ini mewarnai beberapa komunitas yang aku ikuti. Saking sederhananya jam yang ada di dalam sebuah lagu kita sampai terhanyut melupakan sejenak detik jarum jam yang berputar. Bahkan lebih dahsyatnya bisa membalikan kenangan yang ada di otak kita, baik itu sedih maupun bahagia.

Ada beberapa musik yang terasa pas di kuping ini. Genre Rock adalah yang paling dominan, dengan berbagai alternative cordnya dari trash metal, heavy metal, slow rock dan satu aliran musik kusebut sebagai penyeimbang hidupku, musik Campur Sari. Musik selalu menjadi teman setia mengiringi setiap langkah saat menjelajahi suatu tempat baru.

DSC02742

Selain sebagai jam, dengan musik kita juga bisa dengan mudah mengelompokan usia dan tahun kelahiran seorang pendengar. Tidak presisi tapi setidaknya dengan alunan lagu yang terkenal pada masa tertentu akan mengembalikan memori si pendengar pada periode dimana lagu itu lahir. Contohnya saat aku memainkan lagu dari henpon jadul ini beberapa lagu yang booming tahun 90an, maka dapat dengan mudah ditebak periode usia si pendengar. Begitu juga untuk music tahun 80an maupun 70an. Walaupun juga ada seseorang yang secara khusus menikmati minatnya untuk mengenali musik-musik yang  jauh dari usianya karena sebenarnya musik juga tidak mengenal usia.

Di pelataran rumah di sebuah pulau di sebelah utara kota Serang aku memutar beberapa lagu hits jadul. Sebagian dari si pendengar pun seperti tersetrum aliran dahsyat yang sejenak memutar balik ingatannya, mereka menyanyi dan mendendangkan lagu itu buka hanya suara bersuara lirih, tapi jelas mereka menyanyikannya dengan hati.

“Selamanya saling percaya, tanpa ada rasa curiga…. Diantara kita…” Sebuah lagu dari Vooddoo, yang dinyanyikan denga apik oleh Yoyok sang vocalist. Itu salah satu dari beberapa lagu lainnya yang menemani perjalananku kali ini ke pulau Tunda bersama kawan baru.

Slipi Jaya, 17 Mei 2013.

Hujan yang sebentar saja sudah memacetkan Jakarta dengan begitu kompaknya. Tidak ada yang luput dari kemacetan Jakarta, apalagi jika ditambah dengan waktu Jumat sore menjelang wiken. Maka sempurnalah kemacetan ibu kota ini menjadi ritme yang menyesakan dada. Aku berada di dalam sebuah taksi bersama Takrip teman kosanku dan Uut adik kelasku yang baru kukenal di event Berantai Berbagi kemarin. Kami bertiga menuju ke Slipi Jaya sebagai tempat meeting point sebelum nanti melanjutkan Trip ke Pulau Tunda bersama kawan-kawan yang belum kukenal sama sekali.

DSC03744

Hanya ada Uci yang aku kenal, dialah yang mengajaku bersama Rangga. Hanya saja Rangga secara mendadak mengundurkan diri karena ada kerjaan di Surabaya. Maka setelah mencari beberapa pengganti, kutemukanlah nama Uut sebagai pengganti seatnya Rangga. Kali ini aku mengajak Takrip, teman kosanku yang juga teman kerjaku saat bekerja di Surabaya. Sejak 2 tahun yang lalu kami merantau bareng di Jakarta, dan baru kali ini aku mengajaknya pada sebuah trip laut. Yang juga merupakan Trip pertamanya sebagai seorang bolang.

Terminal Pakupatan-Serang, 18 Mei 2013 @00:30

DSC03710

Satu setengah jam, waktu yang kami tempuh dari Slipi Jaya sampai ke Terminal Pakupatan di kota Serang. Rombongan yang terdiri dari 25 traveller ini terbagai menjadi beberapa kali pemberangkatan di karenakan kami harus berebut bus dengan para pemudik dan juga rombongan traveller lain dengan beda tujuan. Sepertinya hanya kami yang berhenti di terminal ini, kebanyakan rombongan yang lainnya menyeberang ke Lampung, mungkin tujuan mereka ke Krakatau, Kiluan atau ke Pulau Sangiang.

Dari terminal ini, kami melanjutkan dengan 2 buah angkot yang dipaksa untuk memuat tubuh kami yang sebagian besar over wight ini, haha…. Terseok-seoklah angkot itu, dan tidak sampai satu jam kemudian kami sudah sampai di Pelabuhan Karang Antu. Pelabuhan kecil ini menjadi tempat transit kami berikutnya dan kemudian berganti dengan moda transportasi laut. Bukan kapal berkapasitas menengah seperti di Muara Angke , tapi sebuah kapal kecil yang biasa digunakan untuk menangkap ikan yang akan kami gunakan untuk menyeberangi lautan hingga ke Pulau Tunda nanti.

Pelabuhan Karang Antu-Serang, 18 Mei 2013 @02:30

DSC03720

Karang Antu, atau juga dikenal dengan Karang Hantu. Serem juga pertama kali mendengarkan nama ini, mungkin seperti kapal hantunya Jack Sparrow yang selalu direbutkan bersama Kapten Barbossa. The Black Pearl yang dikutuk. Dari pelabuhan ini kami akan menggunakan kapal kecil yang sebenernya hanya di ijinkan maksimal membawa 10 penumpang. Tapi malam ini kami memaksakan diri menyeberangi lautan gelap dengan kapal kecil ini. Setelah sedikit keruwetan urusan ijin berlayar kapal dengan Syahbandar di dermaga selesai, kami memulai pengarungan ini.

Sejenak saya teringat kelakuan Ikal dan Weh di salah satu Tetralogi Laskar Pelangi, saya lupa buku yang keberapa. Demi mencari Aling. Ikal menyeberangi lautan menggunakan kapal kecil bersama Weh, yang merupakan teman dan guru dalam membaca navigasi bintang, juga navigasi hati untuk memperjuangkan cintanya kepada A Ling, bukan hanya menyeberangi lautan gelap, bahkan sampai berkeliling separuh dunia. Maka kali ini kamipun bermain di gelapnya malam, mengarungi laut jawa yang gelap.

“Brak!!” tiba-tiba kami dikagetkan dari tidur ayam ini. Ternyata kapal kami menabrak bambu-bambu nelayan yang dipasang untuk mejebak ikan dengan jaringnya. Bukan sebuah insiden besar, karena kapal kami pun terus melaju membelah lautan. Beberapa kali aku melihat dari henpon kuningku, mencoba menentukan titik koordinat posisi kami melalui GPS. Ternyata belum setengahnya posisi kami masih di sekitar Pulau Panjang, mungkin satu jam kemudian kami baru sampai ke Pulau Tunda.

Dan menjelang subuh kami seperti imigran gelap yang mencari suaka, memasuki sebuah pulau yang masih sepi. Belum ada yang beraktifitas. Melewati sela-sela perumahan warga yang tidak begitu rapat. Dan kemudian menemukan sebuah rumah yang akan menjadi tempat istirahat kami selama di Pulau Tunda.

Pulau Tunda, Snorkeling, Walking, Hunting dan Kambing

Hanya beristirahat sebentar, kemudian kami memulai hari ini dengan sarapan pagi. Jam 9 nanti kami akan memulai menikmati dan mengenali pulau ini. Pulau ini terletak 2 jam perjalanan laut di sebelah utara kota Serang, dan hampir sama juga sepertinya jarak ke Pulau Tidung dari Jakarta.

Masih asing dengan pulau ini, bahkan mendengarnya pun sepertinya juga baru kemarin terucap. Saat Rangga mengajaku akupun hanya mengiyakan meskipun belum pernah ke pulau ini. Di akhir pekan ini sepertinya hanya rombongan kami sendirian di pulau ini. Tidak terlihat ada rombongan lain, tidak seperti di kepulauan seribu yang selalu padat oleh pelancong di akhir pekan. Dan sepertinya warga di sini juga masih belum begitu familiar dengan pelancong, mereka menatap kami dengan sedikit aneh.

Kapal yang pagi tadi membawa kami dari Karang Antu, kembali kami naiki untuk menuju ke beberapa Spot Snorkeling. Hanya mengililingi garis pantai pulau ini dan hanya 2 spot yang sempat kami nikmati kehidupan bawah lautnya. Di spot pertama tidak begitu banyak warna-warni bawah laut yang bisa dinikmati, hanya menemukan beberapa bintang laut yang berbeda warna. Tapi di spot kedua yang berada tepat di ujung barat pulau ini biota lautnya begitu hidup dan banyak jenis ikan yang kami temui. Terumbu karangnya pun masih hidup dan terlihat begitu segarnya. Sekilas aku menemukan seekor Manta kecil dengan panjang sekitar 1 meter kemudian ikan itu masuk ke sela-sela terumbu karang.

DSC03723

Arus yang deras di Spot kedua ternyata sangat menyusahkan kami, apalagi sebagian dari kami masih takut untuk terjun ke air tanpa pelampung. Maka tidak terlalu lama kami nemikmatinya kemudian melanjutkan mengelilingin pulau ini menggunakan kapal. Dan kembali ke rumah singgah kami di Pulau Tunda.

DSC03792

Siang harinya aku mengikuti sebagian rombongan yang berkeliling sampai ke ujung timur Pulau ini. Melewati semak dan ladang penduduk, cukup jauh juga kami berjalan ke ujung pulau. Sepertinya di sini belum ada penyewaan sepeda seperti di Kepulauan Seribu. Jalan beriringan bersama Kety, Uut, Uci dan mengambil beberapa foto, ehm… banyak foto sepertinya. Ada juga Adita, Felis, Reza dan Chen yang memilih meninggalkan kami yang berjalan lelet karena kebanyakan pose ini.

DSC03836

Sampai di ujung timur pulau, kemudian arah pulang kami memutar melalui sisi utara pantai ini. Di balik rumpun bakau kami menemui banyak sampah yang tesangkut di dalamnya. Terlalu banyak sampahnya, yang merupakan sampah kiriman dari Pulau Jawa. Memang perairan lautnya tidak sekotor di kepulauan seribu, seperti di Pulau Pari, tapi dibalik hutan bakaunya sama saja.  Sampah adalah momok utama dari pariwisata di negeri ini. Budaya kita yang masih ringan membuang sampah di sembarang tempat, maka tempat wisata mana di negeri ini yang bebas dari sampah sepertinya hanya mimpi. Coba saja liat setiap hari libur di acara Car Free Day, ataupun setiap ada event di Jakarta, sampah selalu menjadi harta karun yang tertinggal. Ah lupakan sampah, karena yakin aku masih menjadi bagian dari mereka. Yang meskipun membuang sampah pada tempatnya tapi tidak juga mampu mengendalikan budaya konsumtif dan ikut menjadi penyumbang sampah negeri ini.

DSC03870

Kembali lagi ke rumah singgah dan bermain bersama kambing. Kambing pulau tunda yang sepertinya sudah mulai kehilangan orientasi atas rasa nikmat dari rumput hijau. Mereka berbaur bersama kami ikut menikmati sisa makanan yang kami berikan. Nasi, ikan dan beberapa gorengan mereka makan dengan lahap sambil berebut dengan beberapa ekor ayam dan juga kucing.

DSC03785

Menjelang sore, kami memilih menunggui sunset disekitar mercusuar. Ada juga yang mencoba mendaki ke menara suar. Mengambil banyak pose kenarsisan kami hingga tak ada lagi cahaya yang mampu ditangkap oleh kamera kami.

DSC03910

Malam

“Namanya sapa mas?.” Aku menanyakan beberapa diantara kami yang masih duduk duduk santai di teras rumah singgah kami.

“Saya, Paijo…” Seseorang menjawab memperkenalkan namanya.

“Ah yang bener mas!,” sepertinya saya tidak percaya dan spontan mengucapkan kalimat itu.

Lalu sebagian dari kami tertawa mendengar komentarku. Kami yang tesisa disini adalah sebagian dari 25 traveller ini yang masih berhaha hihi mencoba mengenal satu sama lain. Ini adalah trip bersama kawan-kawan baru yang tidak saling kenal. Hanya beberapa yang saling kenal, seperti aku, uci, uut dan takrip.

Sang leader kami aku mengenalnya dengan panggilan Chen, ah ternyata namanya Christine. Trip ini adalah sharing cost, kami saling berbagi segala biaya yang dikeluarkan kelompok ini. Dan untuk trip dua hari ini kami hanya patungan Rp 166.000,- untuk sewa angkot di Serang, Sewa kapal, serta penginapan dan konsumsi. Wow! Cukup murah kan.

Doplhin yang tertunda

Pagi berikutnya, kami diharuskan untuk bangun sepagi mungkin. Tapi karena antrian MCK yang hanya tersedia satu kamar mandi, makan baru sekitar jam 6 lewat kami bisa memulai aktifitas pagi ini untuk melihat ikan lumba-lumba, dengan catatan Jika Beruntung. Karena migrasi ikan ini juga tidak bis ditentukan dengan pasti kapan dan dimana. Maka pagi itu kapal kami mencoba mengelilingi Pulau Tunda.

Sebagian dari kami mencari dan membuka radar dengan seksama, mencari dan menebak apa saja yang kami lihat dari jauh. Beberapa kali kami terfokus pada temuan mereka tapi nihil hasilnya. Kerena sang Dolphin sedang tidak ingin dilihat oleh kami. Atau mereka sedang migrasi ditempat lain. Pergerakan migrasi mereka didorong untuk mencari sumber makanan mereka. Dan pagi ini kami belum beruntung karena tidak bertemu dengan mamalia laut yang selalu hidup secara berkelompok ini.

 DSC03879

Pulang

Baru jam Sembilan pagi, dan kami sudah menyelesaikan packingan untuk segera kembali ke Jakarta. Dua kapal telah disiapkan untuk mengantarkan kami kembali ke Karang Antu. Kembali mengarungi laut jawa ditemani teriknya matahari. Dan menjelang memasuki perairan Serang kami kembali mendapatkan sinyal selluer yang selama di Pulau Tunda sangat susah sekali didapatkan. Dua jam kemudian sampai di Pelabuhan Karang antu dan dilanjutkan ke Terminal Pakupatan. Memilih bus kota yang akan mengantarkan kami kembali ke Jakarta. Maka tidak sampai malam hari kami sudah kembali ke Jakarta dengan selamat. [hans]

-hans-

@trihansdotcom | http://www.trihans.com

Advertisements

3 responses to “Menulis Tunda yang Tertunda

  1. langit biru ituuuuuuhh…. kangen bangeeeeet…!
    beberapa hari terakhir ini Batam dipenuhi kabut asap, jadi gak ada pemandangan lagit biru lagi… 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s