[ #imigransibuk ] Mbengkel Si Otong

IMG-20131202-WA0015

Kemarin saya membaca salah satu tulisan kolom yang dipojok bawahnya tertulis bulan penulisan dari tulisan tersebut, September 1997. Sepertinya kalimat pertama ini tidak efektif dengan mengulang banyak kata “tulis”, abaikan. Bercerita tentang Macetnya Jakarta. Salah satu tulisan dari buku “Satrio Piningit” yang ditulis oleh budayawan Umar Kayam. Dari buku itulah kemudian saya terinspirasi untuk menuliskan dan menghidupkan kembali cerita-cerita kecil tentang #imigransibuk ini. Mister Takrip adalah jelmaan dari Mister Rigen sang kepala kitchen cabinet-nya Pak Ageng di buku itu, yang merupakan kumpulan tulisan kolom dari harian Kedaulatan Rakyat.

Dan pagi ini, 16 tahun sejak tulisan itu dipubliskasikan oleh sebuah Koran Nasional dari Yogjakarta. Jakarta masih saja macet, bahkan semakin macet saja rasanya. Saya sebagai salah satu #imigransibuk yang ikut memadati Jakarta, tentunya ikut berperan mamacetkan Jakarta meskipun hanya 5 km ruas jalan yang saya tempuh setiap harinya. Menurut beberapa lembaga yang berkompeten, jumlah pertumbuhan kendaraan di Jakarta mencapai 1200 unit kendaraan perharinya. Dan disumbang dengan 730 diantaranya dari sepeda motor roda dua. Tentunya itu masih belum ditambah dengan motor saya dan motor barunya Mr Takrip yang berplat nomor AA dan AE itu. Plat nomer jauh!.

Mengeluh sepertinya bukan solusi untuk ngadem-ademake hati saat menghadapi macetnya Jakarta. Maka satu-satunya jalan adalah menikmatinya, menikmati padetnya kendaraan yang parkir ditengah jalan, menikmati asap kendaraan, menikmati tukang ngamen bersuara parau, atau juga mengikuti lenggak lenggok topeng monyet yang semakin langka jumlahnya.

“Krip, piye motor anyarmu?. Bagaimana rasanya numpak motor baru.?” Minggu pagi, selain nyuci, beres-beres kamar dan masak-masak ceria bersama Mr. Takrip, kegiatan kami yang lainya adalah mbengkel. Sekedar untuk mengencangkan baut-baut yang kendor atau mengganti bohlam yang putus.

“Enak cak, mantep mak serrr!!.” Sambil memiringkan kepalanya Mr. Takrip memperagakan gaya balapnya Valentino Rossy saat sedang melewati tikungan tajam di sirkuit sentul, lha kok sentul?.

“Mestine krip, motor anyar yo kudune gayeng gas-gasane. Mantep dan Kencang tarikanya”

“Lha ho’oh cak”

“Kalo Si Otong ini, sudah berumur dan mulai renta Krip. Iki bohlame podo pedhot, lampunya mati.” Sambil membongkar dudukan lampu depan motor bebek yang saya beri nama “Si Otong” itu. Meskipun sudah renta, tapi saya sangat sayang dengan motor ber plat nomer AA ini, plat nomer Kedu Selatan yang sehari-harinya ikut mejeng di macetnya Jakarta. Dan sebelum saya bawa Jakarta, Si Otong ini sudah sering saya bawa touring keliling seputar Jawa Timur.

“Oh, mati lampunya ya cak?”

Ho’oh Krip, sekarang banyak operasi lalu lintas jadinya bohlamnya kuganti baru.”

“Harus iku cak, kalo ada yang sudah nggak bener ya diganti selain sebagai sarana untuk penerangan tentunya juga untuk keselamatan kita dan pengendara lain cak.”

Bener kui, Memang seharusnya kita sendiri yang menjaga keselamatan di jalan raya, ojo ngandalke wong liyo, jangan saling mengadalkan malah jadinya nggak ada yang bener semua.”

“Iyo cak, patuh itu bukan dari orang lain tapi dari disi sendiri.” Sambil membantu memegangkan obeng, Mr. Takrip mulai muter baut di dashboard Si Otong.

“Wah, kok cerdas kamu Krip, sampe ngomong soal patuh dan taat aturan gitu”

“Lha iyo cak, coba liat dan baca berita dikoran. Berapa jumlah motor yang ditilang gara-gara masuk jalur busway setiap harinya.”

“Piro Krip?”

“Berapa coba cak? Jumlahnya ribuan”

“Hah, kok akeh tenan. Kok banyak banget ya jumlahnya”

“Akeh cak, meskipun Jakarta pusatnya orang-orang pinter tapi soal urusan ngeyel dan tidak taat aturan Jakarta adalah pusatnya juga cak, semrawut kae orang-orang yang ngakunya kantoran dan terpelajar. Meskipun dengan berbagai alasan tentunya tidak bisa dibenarkan to cak?”

Manggut-manggut sambil memperhatikan bohlam yang baru saya pasang, Ini mister takrip sedang curhat atau sedang menyindir saya yang juga kadang ikut-ikutan melawan arus demi melewati sedikit perboden untuk menyingkat waktu dari pada harus berputar yang selain jauh juga macetnya minta ampun.

“Ho’oh je, omonangnmu pedes Krip pagi ini. Opo kamu kangen sambel tempe buatanku?”

“Lha kok sambel tempe cak?. Ini soal perilaku warga Jakarta dan sekitarnya cak, dan sebenernya juga perilaku bangsa kita tidak jauh dari ceminan kecil bangsa ini di Jakarta ini. Iya to, semua suku bangsa ada disini, Jakarta kan mini-nya Indonesia lengkap dengan semrawutnya bangsa ini.”

“Yo tidak bisa di generalisasi seperti itu Krip, mungkin yang sedang melanggar itu lagi buru-buru, sapa tau lagi kebelet pipis Krip.”

“Hahaha… ada-ada aja cak olehmu ngeles”

“Kan sopo ngerti, siapa tau?”

“Terus lagi ini cak, setelah mereka ditilang olehPpak Polisi yang sudah dengan susah payah mengatur jalanan Jakarta. Lha kok, di Pengadilan mereka pake ngamuk-ngamuk sampai proses sidang di skors sementara. Apa itu nggak lucu? Sudah melanggar, ditilang, lha kok pas disidang pada komplen… Katanya de ndanya kemahalan. Kalo salah mbokya ngaku salah dan tobat!.”

“Weh, pake bawa-bawa tobat segala”

“Apa lagi kalo bukan tobat cak?. Kita semua di Jakarta ini kan maunya lancar dan aman olehe melewati jalanan. Bukanya saling serobot, saling senggol opo maneh saling gontok-gontokkan. Lha udah terbukti salah ketangkap basah masuk jalur busway. Kok ya nggak mau didenda maksimal.”

“Hm, bener juga omonganmu kui. Sekarang saya setuju krip. Memang seharusnya kalo sudah bandel dan ngeyel gitu ya harus diberi sangksi maksimal. Biar kapok, terbukti to sekarang sudah nggak ada lagi yang berani menyerobot jalur busway, ya minimal sudah berkuranglah”

Iyo cak… podo wedi, takut kena tilang”

“Semoga nggak anget anget tai ayam to Krip”

“Iya setuju cak.”

“Nek tilang itu perkara sepele Krip, tapi imbasnya Jakata jadi makin macet. Nah coba tengok soal korupsi Krip, sepertinya KPK semangat betul mengungkap perkara, tangkep sana-sini. Lha kok setelah masuk persidangan Si tikus-tikus berkerah itu malah di vonis dengan hukuman ringan. Lak bikin mangkel dan geram seluruh rakyat ini.”

“Itu juga cak, harusnya dihukum maksimal. Soalnya bukan cuma rakyat Jakarta yang merasakan sengsaranya tapi seluruh rakyat dan anak cucunya. Coba kali dihukum dengan vonis paling maksimal, dijamin bikin ciut nyali Tikus-tikus berkerah itu.”

“Kayaknya sih mulai di vonis maksimal akhir-akhir ini, denger to kabar sidangnya AS dan LHI kemarin”

“Ho’oh cak, semoga cepet tobat itu para Koruptor”

Sambil memasang kembali lampu depan Si Otong, dan mencoba menyalakan lampunya, mengatur kembali dudukan spion. Maka selesailah pagi itu kami olehe mbengkel Si Otong. Mencoba menata  dan mematuhi peraturan dari yang terkecil dari sendiri. Nggak usah muluk-muluk pengin bisa mengatur Negara ini kalo mengatur diri sendiri saja masih sak karepe dewe.

“Wis rampung, sudah selesai Krip…. Ayo tinggal di cuci motor-motor #imigransibuk kita ini… biar pada tobat kotoranya!”

#Mampang Prapatan 11, 11 Desember 2013.

-hans-

www.trihans.com | @trihansdotcom

Advertisements

4 responses to “[ #imigransibuk ] Mbengkel Si Otong

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s