[ #imigransibuk ] Pranotomongso

pranata

Saya dilahirkan dari keluarga petani yang mengalir secara turun-temurun, Bapak, simbah dan mungkin leluhur saya sangat yakin adalah seorang petani. Karena hampir tidak ada pekerjaan selain itu di kampung, meskipun menjabat menjadi seorang pamong desa atau seorang pedagang sekalipun mereka masih punya sawah beberapa petak untuk digarap. Namun, kini harus sangat bersedih karena garis turun-temurun tentang dunia persawahan itu harus terputus. Saya mengikuti naluri yang dibangun dari bangku pendidikan dengan menjadi seorang pekerja kantoran. Sedang Bapak saya yang dulu pernah menggarap sawah sekarang memilih tidak nyawah dikarenakan kalkulasi keuntungan dari hasil nyawah tidak cukup untuk makan.

Mungkin juga bukan saya yang seharusnya bersedih, tapi bangsa ini!. Karena kebanggaan sebagai Negara agraris sepertinya akan segera hilang jika pemerintah sebagai pemangku kepentingan yang mengurusi perut rakyat dengan menjaga pasokan kebutuhan bahan pokok ini lebih mengutamakan kepentingan perut dan yang dibawah perutnya sendiri. Dibawah perutnya? Maksudnya opo iki?. Bukan rahasia lagi, Petani seolah berjuang sendiri untuk menanam padi di sawah mereka. Saat musim tandur tiba, biasaya secara mengejutkan yang namanya pupuk menghilang dari peredaran dan harganya jadi mahal. Mau tidak mau petani harus merogoh kocek terdalam untuk membeli Urea dan teman-temanya baik yan berupa serbuk maupun yang tablet.

Pupuk adalah produk pertanian modern yang semakin meningkatkan kualitas dan produksi sawah petani. Tetapi juga menyebabkan ketergantungan yang tidak boleh dipandang sebelah mata apabila pemerintah tidak mampu memenuhinya. Mau makan apa para petani itu kalau padinya tidak tumbuh subur atau malahan gagal panen gara-gara kena hama wereng. Jika solusi paling mudah yang diambil pemerintah adalah dengan meningkatkan kuota impor, maka secara tidak langsung pemerintah membunuh rakyatnya sendiri. Yang namanya Negara Agraris ini akan hilang menjadi Negara menangis. Mungkinkah?

“Udan-udan ngene kok sepertinya dirimu nelangsa gitu cak? Melow hatimu nak!”

“Ho’oh Krip”

“Lha neng opo cak? Ada apa itu dirimu sedih sendu sedan seperti itu?”

“Bahasamu kok koyo pujangga angakatan 45 Krip!”

“Hahaha..yo ora cak, ini namanya empati, ngonconi konco sing nelongso. Opo karena pak penghulu yang tidak mau lagi menikahkan di hari libur cak? Karena takut dikira korupsi dengan menerima gratifikasi yang katanya seikhlasnya itu.. Ikhlas, ning yo nggak boleh kurang dari biasanya.. hehehe”

“walah, kok malah ngekek mbahas urusan penghulu, lha mau nikah sama siapa?”

“eee… iki wis Desember lho cak!, bulan depan sudah 2014, terus kapan olehmu berrumah tangga, apa nggak pingin punya anak koyo thole-ku kae cak? Lucu ginak ginuk.”

“Wo iyo, Tak terasa sudah mau ganti tahun lagi. Sudah Desember pula… Ini yang membuat saya pilu Krip, ini bulan Desember to? Dalam kalender pertanian jawa itu namanya mangsa kapitu, atau musim ketujuh. Atau di musim ini dikenal juga dengan istilah Perlambangnya Guci pecah ing lautan, artinya mata air menjadi besar.”

“Opo maneh iku? Mangsa kapitu? Musim ke tujuh?. Kok seperti dukun aja ini dirimu cak, pake itungan-itungan jawa gitu?.”

“Ini bukan ilmu dukun Krip, Ini ngilmu titen-nya orang jawa untuk menentukan penanggalan pertanian. Namanya Pranotomongso. Atau kalo dibahasa Indonesiakan menjadi Penata Musim. Tujuanya untuk menentukan kapan baik mulai nandur dan kapan mulai panen, atau di bulan apa musim buah apa bisa ketahuan dengan kalender jawa ini Krip”

“Belum mudeng saya cak! Ilmu dari mana itu?”

“Sebagai anak mantan petani…”

“Sik…sik, petani itu ada pensiunanya to cak?. Kok mantan petani” Mr.Takrip mulai serius dan penasaran dengan kosakata yang pertama kali didengarnya.

“Lha piye maneh Krip, Sekarang Bapakku sudah tidak nggarap sawah lagi. Itunganya rugi, nggak nyucuk buat menutup kebutuhan dapure biyunge di kampung je!.”

“Oh ngono cak!”

“Mau demo ke siapa? Kalo demo nggak nandur ya akibatnya bisa paceklik sepanjang tahun, mau demo cuma sehari ngikut para dokter ya nanti yang sambat bukan pasien, tapi para kebo dan sapi itu Krip, mereka yang kelaparan kalo Bapakku tidak nyawah dan mencari rumput. Akhirnya Bapak milih usaha lain yang tidak terpengaruh dengan kuota impornya pemerintah. Jualan Kijingan atau nisan di kampung sana.” Sedih kalo harus menceritakan ini, sekarang Bapak saya mencoba beralih profesi dengan berjualan nisan yang meski secara ekonomi tidak begitu menjanjikan tapi bisa berlanjut terus sampai sekarang karena dikampung itu yang namanya makam masih disering dikunjungi dan dibersihkan, nggak kaya dijakarta ini malah jadi lahan komersil.

“Dan ini kenapa alasanku udan-udan kok nelongso. Hujan-hujan di bulan Desember itu membuat saya sedih karena di bulan Desember itu hujan sudah mulai sering turun, tanah sawah mulai gembur dan pas banget buat tandur. Dan ilmu kapan bagusnya mulai tandur ada di dalam Pranotomongso itu Krip, jadi Petani jawa itu punya pegangan penanggalan untuk menggarap sawah selama setahun. Saya sedih karena ingat jaman kecil dulu sering bantu-bantu bapak di sawah, tapi sekarang sudah nggak punya sawah lagi.”

“Wah tibake, ternyata orang jawa itu canggih juga ya punya ilmu astronomi yang yahud bisa menentukan kapan waktu tandur, dan di bulan apa musim tanaman apa atau buah-buahan apa.”

“Itu hasil ngilmu titen Krip, titen itu bahasa kerennya ‘mengamati’. Dengan mengamati dibulan ini mesti kondisinya seperti ini, dibulan ini mesti musim buah ini. Dan seterusnya, pokoknya ilmu titen itu ada manfaatnya juga tho, selain ilmu gothak-gathuk mathuk… Dan terbukti Pranotomongso ini telah dipakai turun-temurun”

“Kereeen cak.. Selain ahli menentukan arah lor kidul-utara selatan tanpa kompas, ternyata orang jawa itu juga ahli astronomi pertanian”

“Itu dulu krip, sepertinya sekarang ini musim sudah susah ditebak. Efek pemanasan global telah merubah, ngilmu titen ini juga sepertinya harus di telaah lagi di masa yang serba tidak jelas ini.”

“Lha kok malah pesimis ngono cak!, kan juga ada teknologi yang bisa digunakan untuk mengatur cuaca. Biar para petani itu tetep bisa bercocok tanam dan Negara kita nggak impor beras terus.”

“Bener juga ya, jadi inget jaman Repelita-nya Pak Harto atau Rencana Pembangunan Lima Tahun, siapa sih yang tak bangga jadi anak petani. Pasti kalau ngisi data dari sekolah dengan bangganya menuliskan pekerjaan Bapakku sebagai seorang petani. Tapi itu dulu Krip, sekarang bapaku sebagai penjual nisan je, masa iya harus ngisi juga dengan detail? malah nantinya dikira ahli klenik dan mistik  wong setiap hari bapakku mainya di kuburan, masang nisan.”

Whaaa… kalah kae Ki Gendeng paranormal modern, malah lebih mistik bapakmu cak!”

“Ho’oh!”

“Wis cak, nggak usah sedih lagi. Desember ya biar hujan, biar tanahnya makin subur. Dan kalo Pranotomongso-mu sudah tidak lagi akurat ya saat dilaksanakan amandemen. Biar bisa akurat lagi, biar petani kita bisa makmur lagi. Sekalian juga itu para pemangku kebijakan diamandemen juga biar semakin dekat dengan petani, jangan dikit-dikit kok menambah kuota impor. Kasian to petani kita, mati kelaparan di lumbung padi.”

“tumben tenanan iki, udan-udan awakmu tambah cerdas, omonganmu makin berisi… “

Hujan lebat masih mengguyur daerah Mampang Prapatan, semain lebat dan semakin gelap. Begitu juga perbincangan dua anak kos yang mencoba mengadu nasib di kerasnya Jakarta. Makin lama makin berisi seperti ginak-ginuknya tubuh mereka berdua.

#Mampang Prapatan 11, 15 Desember 2013

-hans-

www.trihans.com | @trihansdotcom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s