Langkah kami diantara hujan dan hutan Dataran Tinggi Hyang

Dalam hujan yang semakin rapat, kami memaksakan diri untuk terus melangkah. Tak ada waktu istirahat lama yang kami ambil sejak meninggalkan Cisentor. Hanya sesekali berhenti untuk mengambil nafas dalam kemudian menekuk punggung dan menahannya dengan tangan memegang lutut kami, seperti gerakan ruku’ saat sedang sholat, dan tentunya ditambah beban dipundak semakin berat karena air hujan yang meresap diantara tas punggung kami. Tak lama kemudian kembali menegakan badan untuk menarik nafas panjang sebelum melangkahkan kaki kembali menikmati penderitaan yang sepertinya tanpa ujung, melanjutkan kembali langkah kami, menyelesaikan mimpi yang tersisa di perjalanan ini.

Savana demi savana telah kami temui, dari yang hanya seluas lapangan bola hingga yang sepertinya tak berujung di pandangan kami. Ini adalah hari kelima sejak kami memulainya, hujan sepertinya menjadi teman setia kami melahap dinginnya hutan tropis rapat yang dipadukan dengan padang rumput hijau di akhir musim penghujan ini. Jas hujan yang sudah tidak berujud lagi, compang camping sekenanya dan sobek disana sini karena ganasnya ranting, tapi itulah yang tersisa yang masih kami miliki untuk sekedar mengurangi terpaan angin dingin dari Puncak Rengganis.

Setelah langkah panjang kami diantara hujan dan hutan itu, tiba-tiba langkah kami terhenti sejenak. menikmati keheningan lembah yang baru saja kami temui, savana luas menghampar di hadapan kami dengan sebuah tanggul tanah menggariskan tegas memisah savana ini menjadi sebuah bidang persegi. Disisi kirinya kami menemukan sebuah pohon berdiri sendiri, tanpa teman, dan sisi lainya ada pos kayu yang berjajar dengan bekas bangunan tuan tanpa atap serta sebuah mesin pesawat yang sudah berkarat. Beberapa tenda kami temui lengkap dengan penghuninya.

Lembah ini bernama Cikasur, sebuah bekas lapangan terbang rahasia yang disiapkan oleh pasukan Belanda. Dengan beberapa kisah kerja rodi yang memaksa pribumi untuk mengerjakan lapangan terbang ini, dan cerita yang paling sadis adalah para pribumi yang telah mengerjakan lapangan terbang ini dibunuh oleh pasukan Belanda pada satu lubang yang mereka gali sendiri diantara lembah Cikasur ini, agar rahasia tentang lapangan terbang ini tetap terjaga. Mungkinkah pohon tunggal yang berdiri sendiri hampir ditengah savanna itu adalah saksi bisu yang mengiringi kisah tragis itu?.

Kemudian kami memilih tanah lapang disamping aliran sungai yang ditumbuhi selada air disisi lainya, membangun tenda-tenda kami dan menghidupi malam terakhir kami setelah seminggu bermain di hutan raya Dataran Tinggi Hyang bersama sahabat baru dan kisah baru yang akan mengawali perjalanan panjang kami lainya menggapai puncak-puncak impian.

Untuk JPers Argopuro, 17-23 Maret 2008, kisah kita tak akan pernah pudar…

-koHAN-Obie-Finanta-Shanty-Ayu-Syaiful-Uchit-Arif-Andre-Nereus-Tovic-Hero-Devim-Wahyu-Ribut-Pramono-Arief-Ipunk-Wiwid-

-hans-

www.trihans.com | @trihansdotcom

link:

https://turupasar.wordpress.com/2012/09/26/cergam-kabut-argopuro/

DSCF1609

Advertisements

One response to “Langkah kami diantara hujan dan hutan Dataran Tinggi Hyang

  1. amazing place! baru percaya kalau dulu ada ribuan rusa di dataran tinggi hyang, tapi sekarang gak tahu kemana hilangnya mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s