[ #imigransibuk ] May Day

statik_tempo_co

Tanggal 1 Mei telah melewati sejarah panjang bagi buruh di seluruh dunia. Bermula sejak awal tahun 1800an, hingga 2 abad berikutnya selalu terjadi pergolakan setiap memperingati hari buruh. Awal mula aksi Buruh adalah untuk menuntut jam kerja yang lebih manusiawi, dahulu sebelum adanya deklarasi buruh. Mereka bekerja di atas 10 jam, bahkan sampai 20 jam dalam sehari. Dan tututan mereka yang pertama adalah menuntut 8 jam untuk bekerja, 8 jam untuk istirahat dan 8 jam untuk rekreasi. Selain juga tuntutan untuk kehidupan lebih layak.

Pada tanggal 1-4 Mei 1886, terjadi peristiwa besar yang sangat mempengaruhi perjalanan organisasi buruh hingga ditetapkanya menjadi hari buruh internasional. Ribuan buruh berdemo di Amerika yang menyebabkan terjadi kerusuhan dengan jatuhnya ratusan korban, akibat aksi tersebut para pemimpin buruh ditahan dan dijatuhi hukuman mati. Untuk memperingatinya tanggal 1 Mei ditetapkan menjadi hari buruh.

Di Indonesia hari buruh sudah diperingati jauh sebelum kemerdekaan. Meskipun berada dibawah penjajahan kolonial Belanda sudah mulai tumbuh pergerakan-pergerakan buruh. Hingga akhirnya sejak Pemberontakan G30S oleh PKI, segala bentuk perayaan hari buruh dilarang di negeri ini, kerena organisasi buruh dikonotasikan dengan pergerakan Partai Komunis. Baru kemudian tahun 1999 sejak keruntuhan Orde Baru. Buruh diperbolehkan kembali untuk memperingati hari buruh. Sebagai kado istimewa, sejak tahun 2014 ini, pemerintah Indonesia menetapkan hari buruh sebagai hari libur nasional.

Berbagai pergolakan memperingati hari buruh terjadi di beberapa kota besar setiap 1 Mei. Di Jakarta, beberapa titik selalu menjadi tempat berkumpulnya ribuan buruh dari berbagai kota penyangga ibu kota ini. Bundaran HI, Istana Presiden, Gelora Bung Karno dan Gedung MPR DPR adalah tempat tempat yang selalu menjadi tujuan mereka menyapaikan suara buruh.

Seperti biasa, saya dan Mr Takrip hanya bisa rasan-rasan atas kelakuan buruh yang kadang sampe memacetkan Ibu kota itu.

“Cak, buruh demo lagi hari ini!.” Sepertinya Mr Takrip resah membaca berita-berita hangat di tv tentang buruh yang akan menduduki Jakarta.

“Hooh Krip, nggak usah keluar-keluar kowe. Dikosan aja, lak lumayan bisa liburan di tengah minggu seperti ini. Baru pertama ini lho hari buruh menjadi hari libur nasional.”

“Iyo cak, lumayan bisa leha-leha

“Kae buruh tuntutanya apa lagi ya tahun ini?”

“Wha ini yang harus kita bahas cak, buruh kae tuntutane kadang aneh-aneh. Kalo sudah ngga jelas gitu jadi kasihan saya sama perusahaan-perusahaan yang terpaksa tutup produksi karena ditinggal demo para buruhnya. Pemerintah juga nggak akan selamanya bisa memenuhi tuntutan buruh” Sambil menghela nafas sang mister selalu cerdas dan tanggap kalo sudah nyangkut urusan tentang kaum buruh, kaum senasib seperjuanganya ini.

“Emang apa aja mister, tuntuan para buruh kali ini?”

“Mereka tahun ini didalam tuntutannya meminta beberapa poin yang jadinya malah lucu, masa mereka menuntut dibelikan TV 19 inchi dan pulsa sama pemerintah. Tujuanya supaya buruh itu bisa update informasi dan tidak ketinggalan jaman, biar pinter gitu cak maunya”

“Walah, kok malah njaluk TV yo, kok aneh-aneh aja kemauannya.”

“Hooh cak!, lama-lama kok jadi illfill sama permintaan mereka.” Mengernyit dahi mister Takrip membayangkan kemauan buruh tahun ini.

“Sik-sik… itu permintaan mereka apa permintaan Organisasinya. Kowe ngerti to, organisasi buruh itu banyak banget. Setiap bulan para buruh harus menyetorkan sekian rupiah untuk menghidupi organisasi buruh yang bisanya cuma demo itu. Tapi saat terjadi sesuatu kecelakan pada buruh, mereka seperti tenggelam ditelan bumi. Hanya eksis saat 1 mei, dan begitu setiap tahunnya”

“Mereka nuntutnya kok sepele gitu yo cak, jadi kesannya itu malah ngajak guyon. Wong pas demo itu mereka naik motor keren-keren yang cc-nya diatas 200cc … kok masih minta pulsa, opo gara-gara ikut-ikutan mama yo?.”

“Mama sopo Krip? Mama Loren ta?”

“Mama minta pulsa cak!” Sambil ngekek kepekso takrip membalas sekenanya.

“Woooo…gundulmu Krip, yo selain mereka minta TV dan pulsa kan ada tuntutan lainnya yang lebih terlihat terpelajar. Minta UMK naik 30%, minta jaminan pensiun, penghapusan outsourching dan lain-lain. Di satu sisi saya sih setuju saja kalo pendapatan buruh naik, sangat setuju… wong kita itu juga buruh migran dari kampung to… Jauh-jauh ninggalin keluarga di sana, kan maksudnya cuma satu, meningkatkan taraf hidup.”

“Iyo cak, Alhamdulillah kalo pendapatan kita naik, kebutuhan juga sudah kadung ikutan naik duluan. Tapi coba perhatikan gaya hidup para buruh yang ikutan demo. Motor yang full modif dan motor-motor gede diatas 200cc. opo nggak miris, kalo mereka menuntut kenaikan UMR tapi gaya hidup mereka itu lebih tinggi dari pendapatnya. Gengsi mereka ketinggian!”

“Nah ini bener Krip, fonemena yang saya temui kalo pulang kampung pas mudik lebaran. Sering kita temui. Gaya hidup perantau yang sebagian besar buruh itu jauuuuh lebih wah dari pada yang sudah beneran sukses. Kalau jamannya mudik, yang namanya perantau itu pasti dandanya perlente, alias menunjukan kemakmuranya sebagai perantau. Padahal kalau sedang di Jakarta, apa saja dijalani demi memenuhi kehidupan yang serba pas ini. Dan mereka rela hutang demi tampil sedemikian itu demi menunjukan kesuksesnya. Termasuk bahasa rantau yang dikental-kentalin, lupa sama basa kampungnya yang lugu dan ngapak itu. Bener to Krip!”

“Iyes cak, tapi yo nggak semua buruh seperti itu cak. Masih ada yang seperti kita ini, mau hidup nestapa. Numpak motor ‘si otong’ yang sudah sepuh itu. Pulang kampung masih bangga sama bahasa ngapaknya sampeyan to. Malah di Jakarta aja masih pede dan nggaya dengan bahasa medokmu kui cak

Hahaha… iyo iyo bener kowe Krip, saya bangga berbahasa ngapak. Emang itu bahasa ibu saya sejak lahir. Dan urusan hidup nestapa itu kan sudah kita jalani sejak kerja bareng merantau di Surbaya to? Jadi nggak kaget dengan kehidupan nestapa bin hemat ini.”

“Wis-wis cak ojo malah kangen-kangenan cerita lawas, moga aja Demo Buruh hari ini nggak bikin kerusuhan, opo maneh sampe bakar-bakaran”

Saya dan Mr Takrip menutup obrolan tentang Hari Buruh ini dengan beribu harapan menatap 2014 yang penuh pergolakan politik ini. Semoga buruh tidak dijadikan komoditas politik demi sebuah kedudukan di Istana Persiden dan di Senayan sana, semoga Buruh tetep bisa menjadi bagian yang  tak mereka lupakan setelah mereka mendapatkan jabatan sebagai wakil rakyat. Itu saja!.

#Mampang Prapatan 11, 4 Mei 2014

-hans-

www.trihans.com | @trihansdotcom

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s