[ #imigransibuk ] Kejahatan Seksual dan Menteri Penerangan

1601266_10152393487790987_8327577495533895_n

“The first image refers to pedophilia in the Vatican. Second child sexual abuse in tourism in Thailand, and the third refers to the war in Syria. The fourth image refers to the trafficking of organs on the black market, where most of the victims are children from poor countries; fifth refers to weapons free in the U.S.. And finally, the sixth image refers to obesity, blaming the big fast food companies. The new series produced by Cuban artist Erik Ravelo was titled as “The untouchables”, are photographs of children crucified for his supposed oppressors, each for a different reason and a clear message, seeks to reaffirm the right of children to be protected and report abuse suffered by them especially in countries such as Brazil, Syria, Thailand, United States and Japan”

Kejahatan Seksual bukanlah kejahatan jenis baru seperti cyber crime yang undang-undangnya masih panas di telinga kerena beberapa kasus tentang dunia maya. Kejahatan seksual sudah ada sejak awal manusia diciptakan dengan memiliki nafsu. Sangat mendarah daging dengan kehidupan sehingga kadang si korban tidak tahu kalo dia sedang menjadi korban, malahan ada yang menikmatinya sehingga sang korban pun akan berbuat hal yang sama untuk korban barunya. Begitu seterusnya hingga bukan lagi dianggap sebagai sebuah kejahatan dan bahkan menjelma menjadi sebuah komunitas tersendiri dengan kelainan seksual.

Akhir-akhir ini pemberitaan Media dengan dalih kebebasan pers telah membuka kran yang selama ini buntu, tiba-tiba terbebas dan merajalela bagai wabah. Tontonan Erotis, Film-film hantu cabul dan kelaninan seksual yang dikemas komedi pun akhirnya tumbuh seperti daging tumor dalam system anatomy tubuh kita, sepertinya susah dipisahkan. Semakin tumbuh membesar, minta pengakuan atas ke-anomalian orientasi seksualnya. Tidak terlihat tapi semakin banyak korban baru yang bahkan tidak bisa dikontrol dari mana datangnya.

Kang Asep sang intelejen koprol tidak tinggal diam dengan fenomena yang sedang santer itu. Bukan hanya di negara ini, bahkan di belahan dunia lain pun sebenarnya sangat aktif memerangi kejahatan ini. Dan sore itu Kang Asep datang dengan segudang analisa yang membuat saya terenyuh akan fenomena yang ada.

“Cak-cak Kohan, piye kabare?. Lama saya tidak berkunjung ke sini cak!”

“Wah, iya nih kang, lama sekali sampeyan tidak main ke markas ini, sedang ada misi apa ini kang kok sajake lama menghilang. Apa dalam misi penyamaran, masih ngurusin mbak-mbak warteg cantik dipojokan gang itu?.”

“Ora cak, malah sedang tidak ada misi penting nih. Bengong saja dirumah, nah ini mumpung lagi ada isu hangat saya kesini cak. Butuh sharing informasi sekiranya bisa membuka kasus baru… eh bukan kasus baru sih… Ini kasus lama, fenomenanya sudah ada jauh sebelum kita lahir cak, mungkin jauh sebelum masa prasejarah sudah ada fenomena ini. ”

“Wah apa itu kang? Kok sepertinya gawat.”

“Itu lho cak, Sejak terbongkar kejahatan seksual, pelecahan seksual yang terjadi di sebuah sekolah internasional yang padahal dari luarnya saja terkesan aman dan tidak tersentuh, lha kok ternyata jadi sarangnya para penjahat seksual itu. Lak ngenes cak!!”

“Ho,oh je, ndrawasi yo cak. Wolak-walike dunia, seperti mau kiamat saja.”

“Dan lebih parahnya lagi, salah satu buronan koncoku dari FBI, itu ada yang pernah bekerja dan menjadi guru di sekolah itu. Apa tidak makin berbahaya kalo gitu cak!.”

“Bener-bener…” saya hanya bisa ngangguk-ngangguk, Kang Asep datang ko kosan saya ini tentunya sudah dengan materi yang sangat siap untuk di analisa bersama. Itulah hebatnya Kang Asep, kadang saya juga tidak tahu dari mana dia mendapatkan sumbernya, sampe-sampe FBI aja dibilang ‘koncoku’.

“Terus piye kang?. Ada berita apa dari FBI koncomu kui.”

“Yo nggak ada cak, wong saya cuma baca di internet dan liat di tivi saja”

“wealaaah, saya kira tadi itu beneran koncomu cak …tiwas saya bangga setengah mati sama sampeyan iki… Punya temen Intelejen di FBI.”

Kami pun tertawa nyiyir bersama, memang Intelejan korpol Kang Asep ini selalu punya sensasi yang membuat saya bangga, meskipun akhirnya harus ikutan berpikir koprol dengan gaya bicaranya yang tidak lepas dari gerak tubuhnya yang semakin mengiyakan apa yang diucapkanya, selaras seirama. Mungkin ini salah satu tekhik intelejen untuk mempengaruhi lawan bicaranya, cerdas bin koprol wis.

“Itu baru di satu sekolah cak, coba sekarang liat. Lha kok sejak adanya isu disekolah itu malahan semakin merebak dimana-mana, bermunculan kasus-kasus lainnya. Seperti fenomena gunung es, dari kejauhan cuma kelihatan puncak es putihnya padahal aslinya gunungnya sangat besar. Bukan cuma di sekolahan, di Sukabumi bahkan korbannya sudah tercatat 115 anak dan ada kemungkinan untuk terus bertambah. Di Medan, di Lampung… dan masih banyak lagi berita hangatnya. Ini fenomena apa cak? Apa dunia mau kiamat?.”

“Wah-wah, bener juga kui kang. Sekarang Kejahatan seksual bisa terjadi di mana-mana. Bukan hanya di tempat portitusi, tapi di sekolah, di kota besar, di kampung, bahkan sudah sampe ke dalam rumah. Pernah denger juga to anak perawan digarap sama bapaknya sendiri. Opo ora edan kang!!!”

“Iyo cak, semakin parah akhir-akhir ini.” Mengernyitkan dahi, itu gerak tubuh Kang Asep sang Intelejen koprol ini. Kejahatan itu sudah semakin dekat, bahkan sudah masuk ke dalam rumah. Terus siapa yang bisa mengontrolnya, dimana lagi masih ada tempat aman?.

“kira-kira opo iki penyebabnya Kang? Kowe punya hasil investigasi apa lagi Kang?”

“Ada cak, ini ada sumber yang sangat bisa dipercaya. Saya mengumpulkan dari berbagai telik sandi yang saya sebar cak. Bukan berita basi ini cak.”

“Wah apa itu kang”

“Ini ada hubunganya dengan Menteri Penerangan”

“Kok Mentri Penerangan? Kan Departemen Penerangan sudah dihapus sejalan dengan tumbangnya Orde Baru, Mei 1998, tepat lima belas tahun yang lalu…”

“Iyo cak, berarti sejak 15 tahun yang lalu negara ini sedang melegalkan kegendengan dunia. Masih inget to gaya bicara Menteri Penerangan yang terkenal di jaman Orde Baru.”

“Pak Harmoko,” Saya tanggap menjawab pertanyaan itu. Siapa yang tak kenal menteri yang ganteng dan berbicara dengan nada tegas dan penuh wibawa dengan kharismua perjabat yang njowoni itu idolanya ibu-ibu se-Indonesia.

“Dulu ya cak, pas masih ada Departemen Penerangan. Media kita tidak bisa ngomong sembarangan, apalagi kalo nyinggung pemerintah sudah pasti besoknya akan langsung di bredel dan dipaksa gulung tikar. Tapi dengan adanya Depertemen Penerangan yang sempat dipertanyakan apa kerjanyaanya itu? Negara ini jauh lebih terkontrol, Pers yang terkekang tapi lebih sopan dalam pemberitaan setidaknya telah membentuk masyarakat yang lebih beradab dan punya unggah ungguh.”

“Wah betul juga kamu Kang, jagoan tenan investigasimu itu.”

“Tidak seperti sekarang ini to. Menggemborkan kebebasan bersuara, kebebasan pers, tapi kebebasan yang salah kaprah. Budaya yang tidak sejalan dengan bangsa ini tetep aja dipaksakan dan dikemas dengan secara membabi buta tayang setiap saat. Ngerti dewe to… di Bioskop-Bioskop kita film lokal yang ada itu kebanyakan film-film hantu cabul. Judulnya serem tapi isinya erotis semua. Masih banyak lagi cak, yang di televisi itu juga cak, tiap malam keluarga-keluarga kita disuguhin acara-acara yang tidak mendidik hanya mengejar rating tinggi dan ngejar iklan dari sponsor.”

“Lha kan ada Lembaga Sensor”

“Bisa apa mereka cak? Toh tontonan tidak bermutu itu makin jaya di prime time, Lembaga Sensor hanya bisa menegur, besoknya acarnya ganti nama tapi yang dibawain sama saja. Wis-wis makin ngenes saja cak.”

“Wah bener juga ya, makanya sekarang kejahatan seksual ada dimana-mana, kelainan seksual juga semakin ditonjolkan dengan makin banyaknya laki-laki ngondek yang jadi artis, risih tapi rakyat hanya bisa tertawa sambil menangis. Media berdalih kebebasan pers tanpa mempertimbangkan moral bangsa.”

“Begitulah keadaanya, kalo sudah begini saya kangen sama Pak Harmoko yang tegas dan renyah suaranya itu.” Mata Kang Asep menerawang mengingat nostalgianya terlahir sebagai didikan Orde Baru.

“Ho’oh Kang, ada kesalahan dengan pengekangan pers pada masa Orde Baru. Tapi dengan kebebasan yang seperti ini juga semakin menghancurkan bangsa dan negara ini secara perlahan. Dan sekarang sudah semakin terlihat, telah lahir generasi yang tidak punya sopan santun dan tanpa unggah ungguh.”

“Moga saja Presiden baru kita di 2014 ini tidak hanya gemar bikin album, tapi bener-bener membenahi keadaan negara yang terlihat besar tapi sebenernya gembos ini.”

Makin hangat saja investigasi yang dipaparkan Kang Asep sang Intelejen Koprol. Tidak hanya membuka mata kita, tapi juga nyulek moto dalam bahasa jawa yang berarti mencolok mata kita. Kebebasan yang tidak pada tempatnya yang disuguhkan setiap hari oleh media, mau tidak mau telah menjadi bagian dari nafas kita. Hingga menghilangkan kata tabu, semua menjadi biasa, semua seperti tanpa dosa. Mereka memerankanya dengan bangga. Semoga tidak ada lagi korban pada anak-anak kita.

#Mampang Prapatan 11, 9 Mei 2014

-hans-

http://www.trihans.com | @trihansdotcom

Advertisements

2 responses to “[ #imigransibuk ] Kejahatan Seksual dan Menteri Penerangan

    • Kita menghujat, tapi filmnya masih laku aja di bioskop… biasa apa kita? asrtisnya jelas suka kontrofresi karena makin ‘negatif’ artisnya makin laku filmnya, ironi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s